Beranda > Nasional > Mudik Lebaran: Pamer Kesuksesan?

Mudik Lebaran: Pamer Kesuksesan?

21/09/2009 – 13:01
Ahluwalia
(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Diprediksikan sekitar 30 juta orang turut dalam mobilisasi arus mudik dari Jakarta ke luar ibukota. Tradisi mudik lebaran tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi sudah menjadi ajang pamer keberhasilan materi.

Mereka yang sukses dan berlimpah materi, memperlihatkan gengsi sebagai ekspresi ‘wah’, melampaui mereka yang kalah. Para sosiolog melihat mudik sudah menjadi gaya hidup kelas menengah kota yang berasal dari daerah an pedesaan.

”Kelas menengah baru ini sekaligus mengekspresikan keberhasilan mereka dalam pembangunan selama dua dekade terakhir. Apa boleh buat,” kata Sosiolog Sunyoto Usman PhD dari UGM, belum lama ini.

Menghadapi arus mudik Lebaran kali ini yang membludag, pemerintah dan swasta menyediakan angkutan umum hingga 34.358 bus, 119 kapal penyeberangan, 725 kapal angkutan, 276 pesawat, dan 227 rangkaian kereta api. Semua moda transportasi umum ini menyediakan total kapasitas 36,4 juta tempat duduk.

Sementara Polri mengerahkan 120.776 personel untuk pengamanan Lebaran . Prioritas utama pengamanan adalah Lampung, Jawa, dan Bali dengan jumlah total personel yang diterjunkan 60.396 orang.

Menteri Perhubungan mengemukakan, jumlah penumpang angkutan umum pada arus mudik mendatang diprediksi 16,25 juta orang, sedangkan pengguna sepeda motor dan mobil pribadi mencapai 11 juta orang.

Pakar sosiologi komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr Hedi Pudjo Santosa menilai, saat ini telah terjadi pergeseran nilai terhadap trend mudik lebaran di masyarakat. Tradisi mudik lebaran tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ajang pamer keberhasilan kepada keluarga dan kerabat.

“Pada masyarakat pedesaan, pamer keberhasilan banyak ditunjukkan dengan banyaknya materi yang dimiliki, seperti mudik dengan membawa kendaraan sendiri dan menyumbang kepada keluarga atau masjid di kampung halaman,” kata Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip ini.

Sementara itu, untuk menjalin silaturahmi masyarakat perkotaan memiliki trend baru yakni mengadakan reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliahnya. Reuni juga menjadi ajang pamer keberhasilan dengan menunjukkan jabatan atau pangkat.

Para pengamat sosial melihat, libur Idul Fitri dan mudik Lebaran di Indonesia tidak hanya didominasi penganut agama Islam. Hal itu memungkinkan karena dalam sebuah keluarga besar seringkali menganut agama yang berbeda satu sama lain.

Yang jelas makna mudik sebagai ajang silaturahmi seringkali terabaikan. Aksi pulang kampung ini tak ubahnya menonjolkan gengsi dan pamer berbalut silaturahmi. Mudah-mudahan tidak demikian. Selamat bersilaturahmi. [E1]

terkait :

Kategori:Nasional
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: