Arsip

Archive for the ‘Peluang & Usaha’ Category

Jadi Jutawan Lewat Tokek

29 September 2009 18 komentar
Sabtu, 26 September 2009 | 08:59 WIB
Istimewa

Palmerah, Warta Kota

Anda tahu tokek bukan? Ya, jenis reptil yang masuk golongan cecak besar ini saat ini banyak dicari masyarakat karena harganya jika dijual lagi bisa mencapai Rp 500 juta per ekor. Wow!

Harga tokek yang memiliki berat 4 ons kabarnya mencapai lebih dari Rp 500 juta. Jual beli cecak besar suku Gekkonidae itu saat ini merupakan bisnis yang cukup menggiurkan.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Ade (40), sebut saja demikian, menggeluti bisnis baru tersebut. Konon, tokek ini dijadikan bahan untuk obat HIV/AIDS. Tokek diekspor ke sejumlah negara, seperti China, Jepang, Hongkong, dan Perancis.

“Ini bisnis yang sangat menggiurkan. Saya sendiri awalnya tidak percaya (terhadap tingginya harga tokek). Namun, setelah saya merasakan (dapat menjual tokek) saya baru bisa percaya,” katanya kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (25/9).

Ade mengaku telah satu tahun menekuni bisnis jual beli tokek tersebut. Keuntungan yang didapatkan dalam satu kali transaksi tergolong lumayan, 5 sampai 10 persen dari harga tokek.

Meski begitu, ia mengaku Read more…

Inilah 4 Kunci Sukses dalam Dunia Bisnis

26 Agustus 2009 2 komentar
Senin, 24 Agustus 2009 | 17:32 WIB
Pikirkan dan rancang strategi branding produk Anda untuk mencapai sukses.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dunia bisnis di Indonesia terus menggeliat, seolah tidak mempedulikan karut marut pemilu dan peristiwa Bom Mega Kuningan. Untuk itu perlu bagi para pelaku bisnis untuk menyusun strategi handal.

“Untuk memenangi pasar dalam dunia yang terus berubah ada 4 kunci sukses,” kata Simon Jonatan, Konsultan Marketing, dalam acara Founder’s Day di Ciputra World Jakarta Marketing Gallery, Senin (24/8).

Keempat kunci tersebut adalah:

1. Awareness: yang termasuk dalam poin ini adalah iklan yang gencar untuk membangkitkan kesadaran terhadap produk tersebut bagi konsumen.

2. Attractiveness: apakah produk kita menarik. Harus ada sesuatu yang berbeda dipandingkan produk lain yang diproduksi kompetitor.

3. Availability: apakah produk juga dilengkapi oleh ketersedian yang menunjung. Misalnya, produk rumah dilengkapi dengan akses yang mudah dan strategis.

4. Affordability: untuk menarik konsumen, penjualan produk disertai dengan berbagai macam potongan harga maupun kredit ringan.

Menurut Simon, keempat kunci sukses ini bisa meningkatkan brand of mind konsumen. “Ini penting. Karena kalau konsumen mau beli, di otaknya sudah mengingat satu produk yang dipercaya,” ucapnya.
ONE

Pebisnis Indonesia Kurang Memiliki Kejujuran dan Kedisiplinan?

Selasa, 25 Agustus 2009 | 07:44 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

Ilustrasi

SLEMAN, KOMPAS.com — Ada dua hal yang jarang dimiliki pelaku usaha dan wiraswasta Indonesia dalam mengembangkan bisnisnya, yakni jujur dan disiplin. Di negara-negara berkembang, dua hal itu sudah menjadi karakter dan budaya.

“Di Norwegia, misalnya, penduduknya terbiasa jujur dan disiplin. Mereka merasa malu dan menganggap aib jika membual dan jika tak tepat waktu, apalagi kalau sampai terjadi berulang. Adapun di Indonesia, kita bisa menjumpai banyak contoh ketidakjujuran dan ketidakdisiplinan berulang-ulang. Ya pantas, Indonesia sulit maju,” ujar Ahmad Sumiyanto, Praktisi Al Iklhas Grup, yang juga Komisariat Bank Madinah Syariah Yogyakarta, Senin (24/8).

Dia menyampaikan hal itu dalam workshop Jogja Business Day di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Ahmad, mengutip pernyataan Ciputra, pebisnis top Indonesia, mengatakan bahwa pebisnis yang berjiwa jujur dan disiplin di Indonesia baru mencapai 0,8 persen dari total pebisnis. Di negara maju, angkanya bisa 4 persen.

“Pebisnis dalam hal ini adalah kelas menengah ke atas, yang beromzet minimal Rp 1 miliar,” ujarnya.
KOMPAS Lukas Adi Prasetya

Ladang Emas dari Abon Tuna

22 Agustus 2009 1 komentar
Nurul Indah Khasanah, pendiri Abon Tuna Khansa Food and Snack.

Sabtu, 22 Agustus 2009 | 07:58 WIB

Mohamad Final Daeng

KOMPAS.com – Bermula dari kegemaran makan ikan dalam keluarganya, Nurul Indah Khasanah (36) mencetuskan ide kreatif membuka usaha di bidang makanan ringan abon. Abon yang dibuat pun bukan berbahan daging sapi seperti yang selama ini lazim dikenal, melainkan dari olahan ikan tuna.

Usaha bermodal awal Rp 20 juta ini dilakoni Indah sejak tahun 2007. Meski masih seumur jagung, namun perkembangan usaha yang diberi nama dagang, Abon Tuna Khansa Food ini telah menggurita. Dalam satu bulan, Indah kini memasarkan sekitar 600 kilogram abon tuna bernilai lebih kurang Rp 72 juta.

”Tadinya saya tidak menyangka (usaha) akan jadi sebesar ini,” ujar Indah saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya di Kayen, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (14/8).

Keluarga dari suami Indah yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, yang ”menjerumuskannya” dalam bisnis ini. Dari mereka, Indah mempelajari pengolahan berbagai makanan berbahan ikan, termasuk makanan tradisional Palembang, ”sambel lingkung” atau di Jawa dikenal dengan abon.

Dari situ, insting bisnis Indah berjalan. Ia berpikir untuk menjual sambel lingkung yang menjadi menu favorit keluarganya itu dalam bentuk kemasan. ”Awalnya saya tawarkan ke saudara, tetangga, dan teman. Semuanya bilang enak,” katanya.

Indah pun memutuskan menekuni serius bisnis abon tuna ini dan mulai memasarkannya setelah mendesain kemasan dan mengurus segala perizinan usaha ke pemerintah daerah Sleman, DI Yogyakarta. Namun, kesuksesan tidak diperolehnya dengan mudah.

Awalnya, Indah harus bergelut dengan penolakan pasar tradisional karena harga jual produknya yang dinilai tinggi untuk pasaran DI Yogyakarta, yakni Rp 12.000-Rp 20.000 per 100 gram. ”Selain itu, produk makanan berbahan dasar ikan juga kurang familiar bagi masyarakat Yogyakarta,” katanya.

Indah yang sempat putus asa lalu mencoba mengalihkan pasarannya ke supermarket-supermarket yang dinilainya punya konsumen kelas menengah ke atas dan telah cukup familiar dengan produk makanan berbahan ikan. ”Setelah enam bulan berjuang, akhirnya produk saya bisa diterima pasar,” kata ibu dua anak ini.

Saat ini, produk Abon Tuna Khansa dipasarkan di 35 supermarket di DIY. Indah juga memakai strategi pemasaran secara online via situs internet yang dibuatnya.

Hasilnya, produk abon tuna juga sukses merambah keluar DIY melalui 23 agen Khansa Food. Kota-kota yang telah dipasok, seperti Jakarta, Lampung, Bali, Malang, Padang, Kalimantan, bahkan sampai ke Singapura.

Dari awalnya dikerjakan secara manual, berkat perkembangan usahanya itu, Indah kini telah memiliki empat mesin produksi abon tuna dengan kapasitas produksi berkisar 30-60 kg per hari yang dikerjakan empat orang tenaga kerja.

Rempah-rempah

Jenis produk yang dibuat kini juga berkembang menjadi nugget, bakso, dan otak-otak, yang kesemuanya tetap berbahan dasar tuna. Semua produk itu, kata Indah, tidak menggunakan MSG (monosodium glutamat) atau penyedap makanan berbahan kimia.

Indah mengatakan, yang digunakannya sebagai kunci rasa abon adalah paduan dari berbagai rempah-rempah nusantara yang diolahnya. ”Saya tidak bisa sebutkan apa saja rempah-rempahnya karena rahasia perusahaan,” kata perempuan yang sarjana arsitektur ini.

Sebenarnya, berbagai jenis ikan dapat diolah menjadi abon, tetapi Indah memilih ikan tuna karena daging yang tebal dan mudah diperoleh. Tuna juga punya kandungan gizi tinggi karena mengandung Omega 3 dan Omega 6 yang berkhasiat memperkecil risiko serangan jantung dan meningkatkan kecerdasan.

”Kalau ikan tenggiri terlalu mahal, ikan gabus banyak durinya, ikan marlin susah didapat,” ujarnya. Ikan tuna yang diolah juga tidak sembarangan karena harus berberat minimal 50 kg. Jika beratnya kurang dari itu, seratnya akan mudah hancur ketika diolah menjadi abon.

Saat ini, Indah masih bermimpi untuk meluaskan jaringan pemasaran ke seluruh Indonesia dan luar negeri. Dengan produknya itu, ia juga berharap bisa ikut menyukseskan program gerakan makan ikan yang digalakkan pemerintah.

Sumber : KOMPAS

Sono, Pencuci Piring Jadi Juragan RM Padang

Kamis, 13 Agustus 2009 | 18:25 WIB

KOMPAS.com – Himpitan ekonomi terkadang memaksa orang keluar dari kampung asalnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Banyak orang desa merantau ke kota besar, sekadar untuk mengais sejumput rejeki.

Tak sedikit pula perantau yang menuai cerita sukses di tempat perantauan. Salah satunya adalah Sono. Pria kelahiran Nganjuk, 46 tahun yang lalu ini, merasakan bagaimana susahnya hidup di perantauan hingga menuai kesuksesan seperti yang dialaminya sekarang ini.

Kini Sono dikenal sebagai bos dari empat rumah makan padang di sekitar Melawai dan Senayan, dengan omzet per hari sekitar Rp 7 juta. Dengan prestasinya itu, walau hanya lulusan SD, Sono mendapat penghargaan dari Danamon Simpan Pinjam (DSP) sebagai salah satu nasabah yang terus tumbuh omzetnya.

Keluarga sono di Nganjuk merupakan keluarga petani. Tak seperti kakak dan adiknya, anak keempat dari enam bersaudara ini sewaktu muda sudah memutuskan untuk keluar dari desanya demi memperbaiki ekonomi keluarganya. “Dari enam kakak beradik, hanya saya yang memutuskan keluar kampung, yanglainnya masih di desa bekerja sebagai petani,” ujarnya.

Ketika memutuskan merantau ke Jakarta tahun 1980-an, usia sono baru25 tahun. “Kebetulan ada teman yang mengajak, saya antusias saja. Untuk modal ke Jakarta saya cari uangdengan berjualan daun jagung lima pikul,” kenangnya.

Dari penjualan tersebut, Sono memperoleh Rp 5.000. “Rp 4.500 saya pakai untuk beli tiket, sementara sisanya buat bertahan hidup di Jakarta,” tuturnya.

Sesampainya di Jakarta, kenyataan yang dihadapinya berbeda dengan yang ada di angan-angan sono. “Saya sempat menganggur dan luntang-lantung di Blok M,” kenangnya.

Untungnya, ada seorang ibu asal Betawi yang berbaik hati memberikan pekerjaan sebagai penjaga mobil. “Dari situ akhirnya saya dapat kerjaan sebagai tukang cuci piring di rumah makan padang dengan gaji Rp 35.000 sebulan,” tuturnya.

Di rumah makan padang itu, sono belajar sedikit demi sedikit cara mengelola rumah makan. Tak hanya itu, di tempat itu pula sono bertemu tambatan hatinya, Yatmi, yang juga berasal dari Nganjuk.

Yatmi bekerja sebagai tukang bumbu. Mereka pun memutuskan menikah tahun 1986. Berbekal keterampilan Yatmi mengolah bumbu, mereka berdua kemudian memberanikan dirimembuka sebuah rumah makan padang sendiri di daerah Kramat Jati pada 1990. “Modalnya Rp 20 juta dari hasil tabungan saya,” ujar sono. Dewi fortuna belum berpihak ke Sono.

Lantaran mempercayakan usahanya ke keponakan yang belum berpengalaman, tak sampai setahun, usaha rumah makan padang Sono bangkrut. Sono dan Yatmi pun memutuskan pulang kampung ke Nganjuk selama enam bulan. Di sana juga, putra pertama mereka lahir.

Tak kuat menganggur, Sono dan Yatmi balik lagi ke Jakarta, bekerja sebagai buruh cuci dan buruh masak di rumah makan padang yang baru. “Waktu itu, gaji saya Rp 7.500 per hari, sementara istri dua kali lipatnya,” kenang sono.

Tak patah arang

Keinginan untuk mengubah nasib mendorong Sono dan istrinya kembali datang ke Jakarta. Dengan modal pinjaman, Sono mengawali kebangkitannya dengan mengakuisisi usaha mie ayam milik sang teman.

Setelah pulang kampung ke Nganjuk, Jawa Timur, karena usaha rumah makan padangnya bangkrut, Sono dan istri kembali datang ke Jakarta. Di ibukota, ia kembali meniti hidup sebagai buruh cuci dan buruh masak di sebuah rumah makan padang di kawasan Blok M. Setelah tujuh tahun mereka melakoni profesi itu, pada 1999, kesempatan untuk mengubah nasib itu akhirnya datang juga.

Waktu itu, Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Salah satu teman Sono, yang berjualan mie ayam di kawasan Melawai, bangkrut. Sang teman lalu menawarkan dua gerobak, peralatan pembuatan mie ayam, bangku buat duduk pembeli, serta semua mangkuk dan sumpit kepada Sono.

Semuanya dihargai Rp 700.000. Sono langsung menyambar kesempatan ini. Karena tabungannya hanya Rp 300.000, ia lalu berutang. Setelah proses akuisisi selesai, muncul persoalan berikutnya: ia tak mempunyai modal untuk memulai bisnis mie ayam.

Yatmi, sang istri, tak kehilangan akal. Dengan modal Rp 50.000, ia membeli jagung, kacang, ubi dan pisang yang kemudian ia olah menjadi aneka makanan. Selama tiga hari, sang istri nyambi berjualan makanan sembari menjalani rutinitas sebagai buruh masak. Hasilnya, uang Rp 50.000 itu berbiak menjadi Rp 150.000.

Dari duit inilah mereka mulai berjualan mie ayam. “Saya sampai ingat harinya. Tanggal 23 bulan 10 tahun 99,” ujar bapak tiga anak ini penuh haru. Ternyata, dagangan Sono laku keras. Bumbu mie ayam buatan Yatmi benar-benar cocok dengan selera para pekerja di sekitar Melawai. “Jualan pertama, omzet saya hanya Rp 73.000 per hari. Lama kelamaan naik jadi Rp 200.000 per hari,” ujarnya.

Dari hasil jualan mie ayam, Yatmi dan Sono mengembangkan bisnis baru. Mereka lalu bisnis nasi gulai dan lagi-lagi laku keras. Setelah gulai, mereka mulai menambah menu masakan padang. “Mulanya hanya sepotong-sepotong, lama-lama banyak juga,” ujar Sono. Dengan tambahan nasi gulai dan nasi padang, omzet Sono naik jadi Rp 500.000 per hari. Keadaan ini berlangsung sampai setahun kemudian.

Pada 2000, semua pedagang kaki lima di kawasan Blok M, terutama di sekitar Melawai, diharuskan membeli kios. Waktu itu harga kios Rp 21,160 juta. Karena tabungannya hanya Rp 1 juta saja, Sono mengajukan pinjaman ke PD Pasar Jaya.

Tahun itu pula, Sono melepas bisnis mie ayam dan nasi gulainya. Ia fokus berjualan nasi padang di Melawai, Blok M. Mereka menamai usahanya Rumah Makan Padang Pak Son. “Omzetnya waktu itu sekitar Rp 2 juta per hari. Sehingga, pada 2003, semua utang ke PD Pasar Jaya dan ke koperasi lunas,” kenang bapak 46 tahun berbadan gempal ini. Dalam kurun waktu tersebut, Sono juga meminjam modal dari Danamon Simpan Pinjam Rp 25 juta. Sampai akhir 2004, Sono dan istrinya bisa membuka cabang nasi padang di Melawai Plaza. Waktu itu, untuk menyewa tempat, Sono butuh Rp 2 juta per bulan.

Kiosnya terbakar

Namun, malang bagi Sono, pada 2005 kebakaran hebat melanda Blok M. Tak terkecuali kiosnya yang ikut terbakar. Akibat kejadian itu, Sono dan istri pun harus rela berjualan di lapak penampungan hingga tahun 2008. Meski begitu, justru sejak itulah usahanya terus meningkat. Sebab, ketika banyak pedagang kaki lima memprotes pembangunan pusat perbelanjaan modern Blok M Square, Sono justru menuai berkah dari pembangunan mal tersebut. Lantaran, banyak pekerja proyek mal tersebut menjadi pelanggan di rumah makan padang miliknya.

Akibatnya, omzet penjualannya meningkat menjadi sekitar Rp 5 juta per hari. Dengan modal tersebut, Sono mengembangkan rumah makannya hingga menjadi enam cabang. Lima rumah makan berada di sekitar Melawai, Blok M. Satu cabang lain ada di kawasan Senayan.”Untuk mengelola rumah-rumah makan itu, saya mendidik dulu para keponakan. Karena saya tidak mau peristiwa kebangkrutan tahun 1991 terulang,” ujarnya.

Sono mendatangkan seluruh karyawannya dari Nganjuk. Dengan demikian, Sono merasa sudah memberikan kontribusi untuk mengangkat keluarganya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. “Lucu juga, ya, dagangnya masakan padang, tapi yang punya dan yang melayani jualan orang Nganjuk,” ujar bapak tiga anak ini sembari terkekeh.

Untuk menambah modal usaha serta memperbanyak kiosnya, sejak tahun 2004, Sono sudah lima kali meminjam dari Danamon Simpan Pinjam (DSP). Terakhir, ia mendapatkan dana sebesar Rp 200 juta yang ia gunakan untuk membeli rumah di Radio Dalam dan mobil untuk menunjang bisnisnya. Rumah itu ia gunakan sebagai dapur, tempat Sono dan Yatmi beserta tiga orang karyawannya mengolah aneka lauk serta memasak satu kuintal nasi untuk kemudian disetorkan ke enam rumah makan mereka.

Keenam rumah makan itu rata-rata memberikan omzet Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per hari. Sayangnya, di bulan puasa 2008, lapak-lapak penampungan Blok M dibongkar pemda dan pengurus pasar. Kawasan Blok M Square pun ditata lebih rapi.

Akibatnya, Sono harus rela berpindah tempat. Beruntung, Sono sudah mempersiapkan tempat yang baru. “Sebelum pembongkaran, saya kontrak tiga los kios di Jalan Hasanudin 26, Melawai, seharga Rp 9 juta per bulan,” ujarnya.

Meski begitu, tetap saja ia harus merelakan dua lapaknya hilang. Hingga akhirnya, rumah makannya tinggal empat saja, yakni di jalan Hasanudin, di dekat Melawai Plaza, kawasan basket Melawai, dan terakhir di kawasan Senayan.

Lantaran tidak ada pekerja proyek lagi, omzet rumah makan padang Sono di jalan Hasanudin berkurang dari Rp 5 jutaan jadi Rp 4 jutaan per hari. Namun, hal itu tidak mempengaruhi kondisi keuangan Sono. Ketiga rumah makan lainnya masih memberikan omzet sekitar Rp 1 jutaan per hari. Total omzet Sono saat ini mencapai Rp 7 juta per hari dengan marjin laba mencapai 30 persen.

Sukses Sono menginspirasi sang anak sulungnya untuk mandiri berwiraswasta membuka bengkel. Tapi, Sono masih memiliki impian yang belum tercapai, yakni mempunyai rumah makan padang besar setara rumah makan Sederhana yang khusus melayani kelas menengah atas. “Saya sedang mencari lahannya,” ujarnya. (Aprillia Ika/Kontan)

Triyono, Guru yang Pengusaha Mainan Edukatif

Rabu, 5 Agustus 2009 | 11:07 WIB

KOMPAS.com - Triyono tergolong orang yang susah diam. Di sela-sela kesibukan sebagai guru sekolah dasar, ia mendirikan usaha pembuatan alat permainan edukatif. Tidak sekadar membangun usaha beromzet puluhan juta rupiah sebulan, tetapi ia juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ini belum termasuk 10 kelompok usaha serupa yang dilatihnya dan kini beranjak mandiri.

Setiap bulan Triyono bisa memproduksi sekitar 120 paket alat permainan edukatif untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak. Omzetnya rata-rata setiap bulan Rp 75 juta. Kualitas barang yang memadai dan jenis yang beragam membuat produk milik Triyono merambah berbagai kabupaten dan kota sampai ke Kalimantan dan Sumatera.

Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (P2PNFI) Regional II Semarang Ade Kusmiadi mengakui jaminan kualitas produk Triyono. Dia yakin bahwa alat permainan edukatif tersebut mampu bersaing apabila dipasarkan ke luar negeri.

Bahan baku dan cat yang digunakan Triyono, menurut Ade, aman bagi anak-anak. Sayang, upaya ekspor ini masih terkendala minimnya jejaring usaha yang dimiliki perajin setempat.  ”Selama ini kami turut membantu memasarkan produk itu ke berbagai daerah. Kami juga sudah meneliti alat permainan yang dihasilkan Triyono itu memiliki makna apa saja, semisal ada yang merangsang emosi atau motorik anak, dan berbagai aspek tumbuh kembang anak,” tutur Ade.

Ia menyebut puzzle sebagai contoh. Puzzle angka yang terbuat dari papan keras berfungsi mengenalkan angka atau huruf, sekaligus melatih motorik halus anak-anak. Balok umum dari kayu mahoni untuk anak usia 4-6 tahun bermanfaat mengembangkan kreativitas, melatih motorik halus, daya cipta, serta mengenalkan bentuk dan ukuran untuk mereka.

Triyono sudah menciptakan dan memproduksi sekitar 180 jenis alat permainan edukatif.  ”Syukurlah, hasilnya selama ini cukup baik. Dari usaha ini, saya bisa membeli mobil, sawah, dan kebun. Saya juga masih bisa menabung dan punya cadangan uang untuk pendidikan anak-anak serta biaya naik haji,” tutur Triyono.

Untuk memenuhi bertambahnya jumlah pesanan alat permainan edukatif, Triyono dibantu 18 pekerja. Mereka bisa dibilang bekerja terus-menerus karena pesanan yang diterima Triyono relatif bertambah.

Tengok pula nilai aset produksinya yang sudah mencapai lebih dari Rp 150 juta. Dari usahanya itu, Triyono juga bisa mempunyai ruang pamer berukuran 6 meter x 12 meter di samping rumahnya, di Desa Ujung-ujung, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Modal berani

Padahal, saat memulai usaha alat permainan edukatif ini, tahun 2001, Triyono hanya dibantu seorang pekerja. Modal awalnya pun hanya sekitar Rp 300.000. Uang itu dia gunakan untuk membeli bahan baku dan sejumlah alat pertukangan manual, seperti gergaji, ampelas, dan alat penghalus kayu. Namun, modal seadanya itu lalu dia olah dengan tambahan ”bumbu” keberanian, ketekunan, keuletan, dan pantang menyerah.

Triyono mengaku masa awal usahanya itu relatif penuh tantangan. Dia belum banyak tahu soal alat permainan edukatif. Namun, dia yakin produk itu bakal laku di pasaran karena semakin banyak orangtua yang memberi perhatian lebih baik terhadap pendidikan anak usia dini.

Dia kemudian mencari-cari bentuk alat permainan edukatif itu, dengan belajar dari berbagai buku dan mencoba membuatnya sendiri. ”Ketika mencoba membuat alat permainan edukatif ini, saya tidak langsung jadi. Ya, bisa dibilang saya pun mengalami proses trial and error,” ceritanya.

Berkali-kali ia gagal. Dari kegagalan produk itu pula, Triyono lalu belajar memperbaikinya. Misalnya, saat produk kayunya banyak terbuang akibat jamur. Dia kemudian berusaha mengatasi jamur dengan lebih dulu memasukkan kayu ke dalam oven agar benar-benar kering.

Dia juga pernah tertipu sekitar Rp 14 juta hanya gara-gara kurang teliti. Ketika pesanan datang, Triyono tak meminta uang muka produksi. Oleh karena itu, belakangan ini ia mewajibkan para pemesan memberikan uang muka setengah dari harga barang.

Semangatnya yang tinggi juga dipicu kenyataan bahwa ia tak bisa sekadar mengandalkan gajinya sebagai guru sekolah dasar untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhan pendidikan kedua anaknya. ”Saya sampai mencari-cari peluang dengan mendatangi rumah pengelola P2PNFI, yang dulu bernama BPPNFI (Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal). Saya sempat takut ditolak, tetapi terus berusaha memberanikan diri,” kenang Triyono.

Gayung pun bersambut. Barang yang dihasilkan Triyono ternyata cukup memuaskan sehingga BPPNFI ketika itu memesan sejumlah alat permainan edukatif. Instansi itu pula yang awalnya menyebarluaskan produk alat permainan edukatif tersebut ke berbagi daerah hingga pesanan terus berlanjut hingga kini.

Melatih penganggur

Sejak tahun 2006 Triyono juga disibukkan dengan pekerjaan tambahan sebagai instruktur bagi 10 kelompok, yang setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Mereka dilatih cara membuat alat permainan edukatif. Anggota kelompok itu sebagian besar penganggur atau siswa yang baru lulus sekolah di Desa Ujung-ujung dan Jembrak, Kecamatan Pabelan.

”Saya mau melatih dan berbagi ilmu dengan anak-anak itu. Buat saya, mereka bukan saingan, tetapi justru mitra usaha. Saat ini enam kelompok di antaranya sudah sangat aktif. Selain memasok produk lewat koperasi yang saya pimpin, mereka juga sudah bisa memasarkan sendiri produknya,” katanya.

Mengelola usaha tak lantas membuat Triyono menganaktirikan tugas utamanya sebagai guru. Ia tetap berusaha membagi waktu dengan baik. Caranya, dengan berbagi tugas dengan sang istri, Siti Munjaemah.

Oleh karena itu, tak heran kalau atas prestasi mengajarnya selama ini, mulai Juli 2009 dia dipercaya menjadi Kepala Sekolah SDN 3 Kopeng di Kecamatan Getasan.  ”Saya ingin pembuatan alat permainan edukatif ini lebih berkembang, agar semakin banyak orang muda pengangguran di desa kami yang bisa bekerja,” kata Triyono. (Antony Lee)

Sumber : Kompas Cetak

Menyeruput Laba dari Bisnis Es Krim

Rabu, 19 Agustus 2009 | 07:41 WIB
Ilustrasi: Es Krim

KOMPAS.com - Siapa yang tidak  kenal es krim. Kudapan es   bertekstur lembut ini disukai banyak orang, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Karenanya tak perlu heran jika bisnis ini terus tumbuh subur. Salah satu merek es krim yang sudah berkibar sejak puluhan tahun silam adalah Baltic Ice Cream.

Manajer Pemasaran Baltic Janto Tan menyebut, produk es krim merek Baltic berbeda dengan produk es krim merk lain. Semua bahan bakunya bersifat alami. Misalnya, Baltic selalu memakai susu sapi murni sehingga teksturnya lembut, tapi tak cepat lumer.

Nah, mulai April 2009, pemilik Baltic, Mulya Setiawan, menawarkan peluang waralaba bagi yang ingin menggeluti bisnis es krim. Ada tiga jenis penawaran, yaitu bentuk booth, mini cafe, dan cafe. Tapi sementara, tawaran waralaba ini hanya berlaku untuk Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Saat ini, gerai Baltic ada di empat lokasi, yaitu di Kramat Raya, Meruya, Cibubur, dan Radio Dalam. Rata-rata omzet gerai-gerai itu mencapai Rp 102 juta sebulan. Padahal, itu hanya hasil penjualan melalui sistem pesan-antar alias delivery order.

Balik modal 10 bulan

Jika ingin menjajal model   gerobak atau booth, mitra waralaba mesti menyediakan dana Rp 75 juta. Mitra akan dapat satu set peralatan, seperti freezer, coffee maker, cash register, dan bahan dagangan pertama. Investasi itu sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta untuk 5 tahun.

Model booth hanya menjual menu es krim, kopi, dan kentang goreng. Model ini lebih cocok untuk lokasi di rest area atau kampus. Harga jual es krim Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per cup. Sedang harga kopi Rp 8.000-Rp 12.000.

Untuk jenis waralaba booth, Janto menjanjikan, terwaralaba bisa balik modal 10 bulan. Itu dengan asumsi, mereka mampu menjual sekitar 80-125 jenis produk, dengan omzet Rp 1 juta per hari atau Rp 30 juta per bulan.

Setelah dikurangi royalty fee 5 persen dari omzet, marketing fee 2 persen, sewa tempat, gaji dua pekerja dan bahan dagangan, laba terwaralaba Rp 7,65 juta per bulan.

Modal waralaba tipe mini cafe mencapai Rp 175 juta. Terwaralaba akan mendapat peralatan lengkap, termasuk meja dan kursi. Mereka juga bisa menjajakan menu lebih banyak. Selain es krim dan variasi kopi, ada juga menu ringan ice cream cake, smoothies, dan kentang goreng.

Asalkan mampu meraup omzet Rp 2 juta per hari atau Rp 60 juta per bulan, mitra waralaba jenis ini bisa balik modal 11 bulan. Sebab, setelah dikurangi biaya-biaya, mereka bisa meraup laba bersih Rp 15 juta setiap bulan.

Sementara untuk model cafe, modalnya Rp 275 juta. Tapi mitra harus memiliki lokasi 80 meter persegi dan  delapan karyawan. Terwaralaba akan mendapat peralatan lengkap dengan volume yang lebih besar dan eksklusif. Perkiraan omzetnya Rp 3 juta per hari atau Rp 90 juta per bulan. Dengan laba bersih Rp 19 juta per bulan, terwaralaba bisa  balik modal dalam 14 bulan.

Meski baru membuka penawaran April lalu, Baltic sudah menjaring empat terwaralaba yang tersebar  di Puri Indah, Lippo Karawaci, BSD City, dan Kelapa Dua. (Dupla Kartin/Kontan)

Kategori:Peluang & Usaha Tag:, , ,

Berawal dari Gagasan Membuat Situs Pribadi

20 Agustus 2009 1 komentar

Wednesday, 19 August 2009| Koran SINDO

Kesuksesan sebuah situs lelang dan penjualan barang serta jasa terbesar dunia,eBay,berawal dari ide cemerlang seorang anak muda.Mengandalkan network effect, situs ini mampu bersaing dengan kompetitor.

SIAPA yang tak mengenal eBay? Setiap kali menyebut nama itu, orang akan langsung mengenalinya sebagai situs transaksi jual beli segala jenis barang dan jasa serta lelang.eBay dikenal karena kelengkapan produknya,kekhususannya, dan kemudahan aksesnya.

Memanfaatkan teknologi dunia maya,pelanggan eBay akan bisa bertransaksi melintas batas dunia dengan begitu gampang.Fasilitas serta kemudahan akses yang disediakan membuat eBay menjadi pilihan sebagian besar masyarakat dunia yang ingin memanfaatkannya sebagai media jual beli dan lelang secara online. Tercatat pada 2006 saja pelanggan eBay telah mencapai 200 juta orang.

Hal tersebut mengantarkan situs ini sebagai situs jual beli dan lelang yang paling banyak dimanfaatkan. Selain soal fasilitas dan kemudahan akses, kelebihan lain yang disediakan eBay sehingga menjadi pilihan semua orang dari seluruh dunia adalah kelengkapan produk yang disediakan.Mulai dari barang antik (antiques), karya seni (art),perlengkapan bayi (baby),buku (books),bisnis dan industri (business and industry) hingga DVD dan masih banyak lagi.

Bisa dikatakan, semua kebutuhan manusia mulai dari kaki hingga kepala sampai kebutuhan hiburan pun tersedia di sana. Sebagai media transaksi online, kemudahan adalah segala-segalanya. Mengandalkan sistem kepercayaan, cara pembayaran utama di eBay pun dapat dengan mudah dilakukan pengguna. Sistem pembayaran di eBay adalah dengan Paypal. Paypal menjamin pembayaran aman baik bagi pembeli maupun penjual. Sistem itu juga cocok untuk transaksi pembayaran sehingga meminimalkan kemungkinan penipuan.

Selain Paypal,cara pembayaran lain yang juga aman digunakan adalah melalui eGold,Moneybooker, Stormpay,Western Union, cek,transfer bank,dan lain-lain. Menilik begitu luar biasanya eBay, orang pun akan bertanyatanya, siapa pendirinya? eBay ternyata didirikan oleh seorang anak muda bernama Pierre Omidyar pada 1995. eBay awalnya adalah bagian dari situs pribadi Omidyar yang memuat tulisan terkait virus Ebola.

Awalnya situs ini dimiliki oleh EchoBay Technology Group, firma konsultasi Omidyar. Omidyar lalu mencoba mendaftarkan nama domain EchoBay.com, tapi nama itu telah dimiliki orang lain,jadi dia memendekkan namanya menjadi eBay.com. eBay bermarkas di San Jose, California. eBay menjadi yang terbesar sekarang karena berhasil memanfaatkan momentum sebagai yang pertama untuk mendapatkan user sebanyak- banyaknya.

Awalnya itu dilakukan dengan menawarkan servisnya secara gratis. Setelah penggunanya mulai banyak, barulah eBay mulai menarik bayaran untuk listing fee sebagai biaya pengelolaan situs. Sebagai situs paling awal yang menyediakan dirinya sebagai tempat jual beli dan lelang sekaligus, eBay dengan cepat bisa tumbuh. Tak banyaknya kompetitor menjadikan situs ini seolah menjadi pemain tunggal dalam bisnis tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kompetitor mulai bermunculan. Beberapa malah menawarkan listing fee gratis.

Munculnya kompetitor membuat eBay yang selama ini tak punya pesaing harus bersiap menghadapi kenyataan. Beberapa pelanggan setia mulai beralih ke kompetitor. Untungnya buat eBay, saat itu jumlah user situs web-nya sudah mencapai jumlah yang banyak sehingga kemunculan kompetitor tak begitu berpengaruh. Malah sewaktu raksasa Yahoo! membuka Yahoo! Auctions dan menawarkan listing fee secara gratis pula, eBay tidak terpengaruh.

Beberapa pemakai eBay yang sempat tergoda tawaran Yahoo! dan beralih ke sana akhirnya kembali ke pangkuan eBay karena pembeli tidak bisa menemukan penjual yang banyak; dan penjual tidak bisa menemukan pembeli yang banyak. Di sini kita bisa melihat betapa berharganya network effect. Nilai dari jaringan eBay sudah membengkak sedemikian rupa sehingga walau eBay menaikkan listing fee-nya pun tidak banyak yang berpikir untuk pindah ke lain hati.

Lewat network effect ini, eBay berhasil menciptakan value yang besar (eksponensial bila dibandingkan dengan jumlah penggunanya) dan mampu mendapatkan sebagian besar dari valuetersebut. Menariknya, Yahoo! yang belajar dari pengalaman tersebut berhasil membalikkan keadaan sewaktu masuk ke Jepang.Yahoo! masuk ke Jepang mendahului eBay dan itulah pasar satu-satunya di mana eBay kalah bersaing dan akhirnya memutuskan keluar dari Jepang.

Pentingnya network effect dalam industri onlineauction ini membuat eBay dan Yahoo! berusaha saling mendahului masuk ke pangsa pasar regional lainnya walau awalnya mereka harus merugi terlebih dahulu.Kini eBay telah merambah ke hampir seluruh wilayah dunia. Omidyar adalah warga Prancis keturunan Amerika-Iran.Omidyar lahir di Paris, 21 Juni 1967. Bapakibu Omidyar sengaja dikirim orang tuanya (keluarga kakek Omidyar) ke Paris untuk menempuh pendidikan di sana.

Ibu Omidyar,Elahe Mir-Djajali, adalah seorang dokter di bidang bahasa dari Universitas Sorbonne dan dikenal sebagai akademisi. Ayahnya adalah seorang dokter bedah.Keluarga Omidyar pindah ke Amerika Serikat saat dia berusia enam tahun. Tumbuh dan berkembang di Washington DC,Omidyar menaruh minat tinggi terhadap komputer saat bersekolah St.Andrew’s Episcopal di Potomac,Maryland. Omidyar kemudian lulus dari St.Andrew’s pada 1984.Pada 1988, dia meraih gelar sarjana di bidang ilmu komputer dari Tufts University.

Setelah lulus dari bangku kuliah, Omidyar sempat bekerja untuk Claris, salah satu perusahaan Grup Apple di mana dia membantu penulisan MacDraw. Pengalaman bekerja di Claris membantunya menggeluti usaha di bidang komputer.Pada 1991,dia mendirikan Ink Development, cikal bakal perusahaan e-commerce yang kemudian berganti nama menjadi e-Shop.

Saat berusia 28 tahun,Omidyar menemukan ide mendirikan sebuah situs penjualan online, yang kini namanya menjadi super brand dunia maya, eBay. eBay sendiri diluncurkan pada Hari Buruh, 4 September 1995. Jeffrey Skoll kemudian bergabung dengan perusahaan pada 1996.Pada Maret 1998, Meg Whitman ditunjuk sebagai presiden dan CEO dan terus menjalankan perusahaan hingga Januari 2008 saat dia mengumumkan pengunduran dirinya.

Pada 1998, eBay resmi menawarkan saham ke publik dan hal ini mengantarkan Omidyar dan Skoll menjadi miliarder sukses. Keuntungan eBay terus bertambah seiring berjalannya waktu.Pada Juli 2008, eBay diketahui sukses membukukan pendapatan mencapai USD4,45 juta. Seiring krisis finansial global,pendapatan eBay sekarang mendekati angka USD2,65 juta.Ke mana Omidyar membelanjakan pendapatan yang sedemikian melimpah? Ternyata tidak semua dia habiskan untuk memenuhi kebutuhan pribadi.

Hal yang membuat nilai kekayaan Omidyar semakin penuh makna adalah sikapnya yang rela menyisihkan pendapatannya untuk berbagi dengan sesama. Bersama istrinya,Pamela Kerr Omidyar,dia mendirikan Omidyar Network pada 2004. Lembaga ini dimanfaatkan Omidyar untuk menyalurkan bantuan sosialnya.Omdiyar Network berkomitmen memberikan dan menciptakan kesempatan bagi masyarakat di seluruh dunia. (sugeng wahyudi)

Banyak Berkhayal untuk Dapat Duit

1024345p
Senin, 15 Juni 2009 | 10:20 WIB

KOMPAS.com - Untuk menjadi seorang animator yang handal diperlukan daya khayal tinggi selain penguasaan program-program pembuat animasi.”Jago diprogram tapi ngga tau mau bikin apa, yah sama aja boong ,” kata Auges Savara, animator dan juga pengajar di Interstudi kepada Kompas.com saat workshop yang diadakan Tabloid PC Plus di JCC, Jumat (12/6) lalu.

Untuk animator pemula, saran Auges, harus banyak menonton film, main games, baca komik untuk meningkatkan imajinasi.”Itu bisa memunculkan ide-ide menarik,” ucapnya.

Ada empat software yang dapat digunakan untuk membuat animasi yaitu 3D Max, Maya, Sinema 4D, dan Blender. Namun, untuk pemula disarankan memakai software 3D Max yang lebih mudah dalam mengoperasikan.”Software original harganya lumayan sekitar 1.700 dollar AS,” katanya.

Untuk tahap awal, kata Auges, yaitu membuat modelling sketsa gambar secara manual dari segala angle. Bisa menggambar diatas kertas kemudian di scan, atau langsung di atas wacom (alat untuk menggambar yang langsung terhubung dengan komputer). Dari sketsa gambar tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam program 3D Max untuk dijadikan model.

“Contohnya buat helikopter. Kita buat tampak samping, depan, dan atas. Lalu sketsa itu dianimasikan secara detail, trus kita buat keluar tembakannya lalu meledak. Itu semua ada di 3D Max,” jelasnya.

Ia juga memperlihatkan potongan film action durasi 15 detik, yaitu adegan menembak dengan peluru yang berjalan lambat. “Itu pakai empat software. Untuk pemula bisa belajar sekitar tiga hari,” ucapnya.

Selain empat sofware diatas, ada lagi software ZBrush yang baru dikenal di Indonesia untuk memudahkan melukis images dengan mengaplikasikan efek-efek 2D dan 3D yang saling berintegrasi dan telah digunakan oleh semua jenis industri di dunia. “Bisa memudahkan melukis gambar dengan color, material, teksture, dan depth, mendorong dan menarik canvas, bahkan dapat memahat dan memberi tekstur model 3D,” jelasnya.

Bisa dapat duit banyak

Menurut Auges, di Indonesia sebenarnya banyak animator handal namun sayangnya belum terekspos, selain itu umumnya animator saat ini lebih banyak bekerja untuk industri iklan ketimbang membuat film.

Para animator tersebut, lanjutnya,  lebih suka menjual karyanya ke luar negeri karena bayarannya sampai 10 kali lipat dibanding di Indonesia. “Satu-satunya masalah adalah mereka ngga puas soal bayaran. Disini mereka kurang dihargai,” tegasnya.

Sebagai contoh adalah film sinetron drama yang sering ditayangkan di salah satu stasiun televisi yang menggunakan animasi kurang baik.”Itulah akibat bayarannya kecil, jadi mereka kerja seadanya,” ucapnya.

Sedangkan soal peralatan dan teknologi, lanjutnya, Indonesia tidak ketinggalan dengan negara-negara lain.”Banyak animator Indonesia punya peralatan yang canggih-canggih,” katanya.
C8-09

Mencicipi Peluang Bisnis Puding Kedelai

18 Agustus 2009 3 komentar
035810pKamis, 16 Juli 2009 | 11:34 WIB | Gaya Hidup Sehat

KOMPAS.com - Banyak orang menyukai kedelai. Selain rasanya yang nikmat, khasiatnya juga bagus untuk tubuh. Kedelai biasa diolah menjadi susu, tahu, dan tempe. Tapi di tangan pengelola PT Zehat International, muncul inovasi produk olahan puding kedelai atau yang biasa disebut tofu puding.

Marketing Manager PT Zehat International Agus M. Dien bilang, ide membuat tofu puding muncul karena mereka ingin memberi variasi pilihan kepada konsumen dalam bentuk makanan siap saji. “Makanya kami buat puding, apalagi selama ini belum ada yang membuat puding dari kedelai,” ujarnya.

Zehat memulai usaha ini sejak 2006. Awalnya, perusahaan ini sebatas mengolah kedelai menjadi susu cair. Setelah melakukan beberapa kali inovasi, akhirnya mereka berhasil meracik tofu puding.

Untuk bahan baku, tutur Agus, Zehat mengimpor kedelai dari Kanada. Mereka memilih kedelai Kanada karena biji kedelainya lebih besar dan putih, sehingga menghasilkan puding yang bersih. “Jadi, bukan kami tak mau pakai produk lokal, tapi selama ini kalau kami coba selalu gagal, ada ampas hitam tersisa,” ujar Agus.

Proses produksi puding tofu ini diawali dengan mengolah biji kedelai menjadi bubuk. Lalu, bubuk kedelai dicampur air dari mata air pegunungan di Ciawi.  Selanjutnya ditambahkan gula putih dan rasa alami. Ada tiga pilihan rasa, yaitu manis, jahe, dan kopi. Untuk puding beraroma jahe dan kopi, dicampurkan jahe atau kopi yang digiling halus.

Bahan-bahan tersebut kemudian dimasak 30 menit. Setelah didinginkan sesaat, dituang ke dalam wadah dan dikemas dengan label merek Soylicious. Lalu dimasukkan ke ruang pendingin selama 5 menit. Kemudian, puding yang sudah dikemas direndam sesaat di dalam air mentah, lalu dikemas dalam dus. Untuk mempertahankan rasa, dus puding dimasukkan ke gudang pendingin dengan suhu 2 derajat sampai 7 derajat celcius.

Zehat rutin memproduksi puding setiap tiga hari sekali. Produksinya mencapai 40.000 pieces per bulan dengan harga Rp 4.000 per pieces.

Zehat memasarkan tofu puding buatannya ke Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Bali. Produk ini juga sudah dipasarkan di beberapa hipermarket besar seperti Sogo, Giant dan Carrefour.

Menurut Agus, setiap bulan Zehan bisa menjual 90 persen dari total produksi mereka. Omzet nya sekitar Rp 144 juta per bulan dengan marjin Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Karena tanpa tambahan pengawet, tofu pudding ini hanya bisa tahan satu bulan.

Karena masa kadaluarsa yang terbilang singkat inilah, Zehat ragu memasarkan tofu puding ke wilayah Sumatera. “Mungkin dengan membangun pabrik di sana, kerjasama dengan distributor, atau cara lainnya, masih dipertimbangkan,” papar Agus.

Saat ini, Zehat dalam tahap pengenalan dan penanaman imaji produknya sebagai produk olahan kedelai yang berkualitas dan tanpa bahan pengawet. “Untuk menjaga imaji, kami tidak bisa memperpanjang masa kadaluarsa dengan memakai bahan pengawet,” ujar Agus.  Zehat berencana menghadirkan tofu puding rasa baru untuk menambah pilihan bagi para konsumen.

Agus optimistis, prospek bisnis tofu puding masih sangat cerah. Sebab, Agus mengklaim, hingga saat ini pemainnya baru Zehat saja. Selain itu, “Beberapa bulan terakhir, kami juga telah menerima pesanan dari sejumlah restoran,” ujarnya. (Dupla Kartini/Kontan)

artikel terkait :

Mencicipi Peluang Bisnis Puding Kedelai
Mengintip Basahnya Bisnis Lidah Buaya
Laba Ratusan Juta dari Cireng
101 Ide Bisnis Tanpa Kantor, Apa Itu?
Jeli Bioetanol, Bahan Bakar dari Jerami
Dari Modal Gunting Kain, Henry Kini Punya 800 Karyawan
Menikmati Gurihnya Laba Icip-icip Jangkrik
Putu, dari Laptop Pinjaman Sekarang Omzet Miliaran
Ujang, Anak Kemarin Sore dan Pertanian Organik
Ini Dia Belia Pendulang Omzet Jutaan Rupiah
Menjaring Uang dari Bisnis Ikan Hias
Sepatu Lukis Lagi “Ngetren”
Meneguk Untung dari Bisnis Es Dawet
Franchise Pisang Goreng Cepat Untung dan Balik Modalnya
Ketika Limbah Koran Jadi Lembaran Uang

Mengintip Basahnya Bisnis Lidah Buaya

18 Agustus 2009 2 komentar
2730453p
Supardjo memasukkan botol minuman kesehatan berisi sari lidah buaya ke dalam panci pemanas untuk disterilisasi di Laboratorium Parangtopo, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (9/4). Riset dan pengembangan produk dari lidah buaya terus dilakukan laboratorium Departemen Biologi FMIPA UI ini. Lidah buaya juga dijadikan tablet jamu herbal dan effervescent.
Rabu, 6 Mei 2009 | 10:51 WIB

KOMPAS.com — Budi daya lidah buaya atau Aloevera sangat menjanjikan. Karena lidah buaya bukan semata tanaman hias, tapi bisa menjadi bahan dasar minuman yang menyehatkan. Bahkan, bisa dijadikan tepung untuk bahan dasar kosmetika.

”Lidah buaya yang dapat menambah nilai ekonomis dan jenis unggulan adalah barbadencise dan sinencise. Karena pelepahnya besar dan tebal,” kata Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Tani Aloevera Syamsuri di Kampus UI Depok beberapa waktu lalu.

Selama ini, KSU Tani Aloevera bekerja sama dengan Pusat Sinergi Riset dan Bisnis Fakultas MIPA UI yang dipimpin Erlin Nurtiyani. Menurut Erlin, pihaknya sudah memiliki lima paten produk lidah buaya dalam bentuk minuman, kapsul, tepung, dan effervescent.

Dengan mendirikan PT Kavera Biotech, Erlin memproduksi semua itu dengan bahan baku yang dipasok dari KSU Tani Aloevera. Namun, kata Erlin, produknya hanya menggunakan lidah buaya organik. ”Dari uji coba laboratorium, aloevera yang menggunakan pupuk kimia hasilnya tidak bagus,” katanya yang meneliti pengolahan lidah buaya sejak 1998 dan baru mematenkannya tahun 2001.

Menurut Erlin, sambutan pasar sangat bagus atas minuman lidah buaya. Petinggi di Mabes Polri menjadi salah satu pelanggannya. Bahkan, pernah dikirim ke Abu Dhabi. ”Namun kami belum siap memenuhi permintaan pasar karena kekurangan bahan baku,” kata Erlin yang berharap minuman lidah buaya bisa menjadi Coca-Cola versi Indonesia. ”Bulan depan sudah ada investor yang sanggup menyediakan mesin untuk pabrik pembuatan minuman dalam kemasan di Sawangan, Depok,” kata Erlin.

Minuman lidah buaya Kavera dikemas dalam botol kaca ukuran 300 ml dijual Rp 7.500 dan untuk ukuran gelas Rp 3.000. Minuman Kavera bisa bertahan sampai satu tahun meskipun tanpa bahan pengawet. ”Namun Kavera tidak dipasarkan ke pasar modern,” kata Erlin.

Rp 1.000 per kg

Sementara itu, Syamsuri mengatakan, KSU Tani Aloevera sudah membina petani-petani di Depok untuk bercocok tanam lidah buaya yang hasilnya mencapai 5 ton sekali panen. Panen lidah buaya rutin dilakukan setiap bulan dengan memetik dua pelepah dari setiap pohon. ”Padahal, kebutuhan lidah buaya dalam satu hari minimal 1 ton,” katanya.

Karena itu, KSU Tani Aloevera mengajak masyarakat menjadi petani lidah buaya dan hasil panennya nanti akan dibeli koperasi dengan harga Rp 1.000/kg. ”Semua lidah buaya hasil dari petani yang kami bina, pasti dibeli oleh koperasi,” ujar Syamsuri.

Syarat untuk mendapat jaminan hasil lidah buaya dibeli koperasi, antara lain wajib menjadi kelompok tani binaan KSU Tani Aloevera, membeli bibit dari koperasi, serta kualitas tanaman standar koperasi, seperti pelepah tidak luka dan cara pemetikan dilakukan dengan benar.

Harga bibit lidah buaya Rp 2.000 per batang umur dua bulan. Sementara, untuk pupuk organik dan pupuk kandang kambing dipasok koperasi. ”Karena pupuk organik dan pupuk kotoran kambing sangat baik untuk pertumbuhan lidah buaya. Jika menggunakan pupuk kotoran ayam hasilnya tidak bagus. Kalau menggunakan kotoran sapi harus direbus dulu,” kata Syamsuri sambil menambahkan petani bisa menjual bibit anakan lidah buaya ke koperasi Rp 1.000 per batang. (Mirmo Saptono/Warta Kota)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.