Beranda > Wouwwwww...!! > Heboh Uji Keperawanan demi Beasiswa

Heboh Uji Keperawanan demi Beasiswa

Selasa, 23 Juni 2009 | 08:18 WIB

0821013p

FREETOWN, KOMPAS.com — Program beasiswa untuk para gadis asal mereka lulus uji keperawanan bikin gempar Sierra Leone, Afrika barat daya. Program ini bertujuan mengurangi begitu banyaknya remaja hamil.

Selain itu, program ini juga ingin mendorong siswa remaja putri supaya tidak putus sekolah. Sekitar 12 persen gadis Sierra Leone melahirkan anak pertama ketika masih berusia 15 tahun. Demikian laporan PBB. Begitu hamil, mereka langsung putus sekolah.

Juru bicara Perhimpunan Pemuda Biriwa bagi Pembangunan BYADO di Sierra Leone utara mengatakan, sebanyak 52 gadis menerima beasiswa sekolah lanjutan. Ada satu syarat beasiswa itu, mereka harus masih perawan.

Pada awal tahun ajaran baru, para gadis akan diberi beasiswa asal lulus uji perawan. “Sebelum memberi beasiswa, kami akan mengujimu dan kalau kamu tidak perawan lagi selama masa sekolah, kamu juga akan kehilangan beasiswa,” kata Samuel Kamara, karyawan BYADO, kepada Radio Netherland. Katanya seorang gadis kehilangan beasiswa ketika gagal dalam ujian perawan.

Patut dipuji

Reaksi terhadap program ini beragam. “Ini adalah strategi yang patut dipuji,” kata Catherine Greenwood yang bekerja di CARE International. Menurutnya, rancangan ini harus benar-benar dicoba karena semua program yang mendorong gadis remaja tidak melakukan hubungan seks dan program lain yang menghalangi penyebaran HIV/AIDS ternyata gagal.

“Gadis hamil pada usia 12 tahun dan sebagai ibu, anak perempuan saya yang berumur 13 tahun, saya risi melihat gadis-gadis ke sana kemari menggendong bayi yang tidak bisa mereka besarkan sendiri. Jadi, saya sambut gagasan ini.”

Bagi Wairimu Munyinyi yang bekerja untuk LSM Concern Worldwide, tawaran beasiswa bagi gadis yang lulus uji keperawanan adalah “praktek murahan.” Ia melihatnya sebagai pelanggaran besar-besaran terhadap hak-hak asasi para gadis ini, dengan anggapan salah bahwa para gadis itu sendirilah yang bersalah kalau mereka sampai hamil.

Gadis remaja, kata Wairimu Munyinyi, biasanya berhubungan seks dengan pria yang punya semacam kekuatan dalam menguasai mereka dan menyediakan bantuan material kepada mereka. “Secara ilmiah, tidak punya selaput dara tidaklah berarti bahwa seorang gadis sudah tidak perawan lagi.”

Uji keperawanan juga dilaksanakan kepada masyarakat Zulu di Afrika Selatan sebagai cara menghindari kehamilan dini dan berjangkitnya HIV atau penyakti AIDS. Namun, melihat besarnya pengidap HIV di Afrika Selatan, Wairimu Munyinyi menyimpulkan bahwa tes keperawanan bukan merupakan jalan keluar.

Di kalangan masyarakat Biriwa di Sierra Leone, program uji keperawanan ini mendapat dukungan pemerintah, tetapi bukan untuk menyadarkan pentingnya pendidikan. Wilayah Biriwa dan wilayah utara lain belakangan meloloskan undang-undang yang mengeluarkan gadis hamil dan pria yang menghamilinya dari sekolah mereka. Organisasi pelindung anak-anak berpendapat, pendidikan tidak boleh digunakan untuk menghukum, baik anak perempuan maupun anak laki-laki.

Di lain pihak, organisasi yang mementingkan pendidikan gadis mengatakan, harus ada debat baru untuk membahas strategi yang sekarang gagal. Tidak jelas apakah mereka mendukung uji keperawanan.

Wairimu Munyinyi mengatakan, ini adalah peringatan supaya berbuat sesuatu. Ini juga merupakan tantangan secara nasional supaya turun ke bawah dan berbuat sesuatu, tidak hanya mengeluarkan pernyataan. “Ini sudah sering dibicarakan, tetapi keadaan di lapangan tidak juga berubah,” tutur Wirimu Munyinyi.
ONO
Sumber : Radio Netherlands

terkait :

Putus Sekolah, Jual Keperawanan Rp 170.000

Di Bogor, Keperawanan Dihargai Rp 40 Juta

Lelang Keperawanan Rp 9 Miliar

Haaah! Gaun Pengantin Sepanjang 2,1 Km

Emoh, Keperawanan Ditawar Rp 40 Miliar

Heboh Uji Keperawanan demi Beasiswa

  1. 6 September 2011 pukul 11:32

    Hiya, I am really glad I have found this info. Nowadays bloggers publish just about gossips and web and this is really frustrating. A good site with interesting content, this is what I need. Thank you for keeping this site, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Cant find it.

  2. 14 Juli 2010 pukul 12:50

    Woouwwwww… Tapi, menurutku program yang meungkin bisa efektif buat mencegah anak hamil di usia dini, bahkan sangat dini.
    Di Indonesia gimana? Ah, tidak perlu kebijakan seperti itu.Di sini ada peran agama yang bisa jadi filter, ada keluarga yang bisa mencegah hal itu, ada norma masyarakat yang bisa jadi “penyelia”, dan tentu tidak ketinggalan peran sekolah.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: