Beranda > Kesehatan > Ya Ampun…. Si Kecil Cacingan?

Ya Ampun…. Si Kecil Cacingan?

Jumat, 7 Agustus 2009 | 15:33 WIB

1533134p

KOMPAS.com – Anak Anda rewel, dan selalu berusaha menggaruk-garuk bagian anusnya? Semula Anda mungkin berpikir, gatalnya itu akibat kebersihan anus yang kurang terjaga. Tetapi setelah Anda ajak si kecil ke toilet dan Anda ceboki anusnya dengan saksama, keluhannya tak juga hilang. Ia bahkan menangis karena rasa gatalnya itu. Jangan-jangan dia cacingan. Harus bagaimana mengatasinya?

Perlu Anda ketahui, cacing ada banyak ragamnya. Ada yang dapat terlihat oleh mata telanjang, ada juga yang kasat mata. Ada yang hidup di tanah, namun ada pula yang hidup di air. Jenis cacing pun bervariasi, ada cacing keremi, cacing pita, atau cacing tambang. Apa pun itu, hewan kecil ini dapat menimbulkan masalah kesehatan. Di Indonesia tercatat di atas 50% anak menderita cacingan.

Hewan yang menyukai lingkungan kotor dan lembab ini sering ditemui pada lingkungan yang kumuh dan lembab. Mahluk yang tergolong parasit ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau secara langsung menembus kulit tubuh. Bila melalui makanan berarti telur/larva cacing berada pada makanan yang tidak higienis (sayur dan daging yang tidak dimasak matang, misalnya). Jika masuk secara langsung, cacing bisa masuk lewat telapak kaki saat anak bermain di tempat-tempat kotor seperti di tanah tanpa alas kaki.

Gejala cacingan
Meskipun demikian, tidak berarti orang-orang yang tinggal di lingkungan yang bersih akan terbebas dari cacing 100%. Kecacingan umumnya diderita anak-anak usia satu tahun ke atas berkaitan dengan kebiasaan mereka yang mulai sering main di luar rumah. Cacing yang masuk ke dalam tubuh akan menetap di dalam usus, sebagai tempat yang nyaman bagi berkembang biaknya cacing. Namanya parasit, ia mengambil segala makanan yang ada di dalam usus tanpa peduli akan inangnya.

Kecacingan yang tidak diatasi mengakibatkan cacing yang ada di usus bertambah banyak sehingga bisa menimbulkan penyumbatan di saluran cerna, dan usus pun tidak bisa mengalirkan sari-sari makanan ke pencernaan. Akibatnya  si penderita akan mengalami sakit pada perut, atau timbul kolik, bahkan mengalami demam.

Cacing bisa menembus organ lain pada tubuh seperti paru-paru atau hati lewat peredaran darah dan kelenjar getah bening. Cacing yang berada pada saluran napas, akan membuat saluran napas tersumbat sehingga anak jadi kerap batuk-batuk. Sementara, cacing yang bertempat di saluran anus menimbulkan gatal-gatal di daerah sekitar anus. Begitu pun, cacing yang berada di organ penglihatan akan menimbulkan gatal-gatal pada mata. –

Gejala anak yang mengalami kecacingan antara lain berat badan tidak naik-naik karena sari-sari makanan yang masuk harus dibagi dengan parasit cacing. Karena itu, seberapa pun anak banyak mengonsumsi makanan, parasit cacing tersebut ikut mengambilnya. Anak juga akan tampak lemas, lesu, pucat, dan kurang nafsu makan. Akibat lebih lanjut penderita kecacingan akan mengalami pertumbuhan yang terhambat.

Kebersihan diri dan lingkungan
Pencegahan infeksi kecacingan cukup mudah, yaitu dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Adapun yang dapat dilakukan pada anak antara lain:
• Cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
• Mengonsumsi makanan yang dimasak dengan matang.
• Hindari jajanan di tempat kotor yang tidak terjamin kebersihannya.
• Menggunting kuku tangan dan kaki anak bila sudah terlihat panjang.
• Membersihkan tubuh si kecil sesegera mungkin sehabis bermain kotor-kotoran.
• Pakai alas kaki jika main keluar rumah.
• Tidak disarankan menggunakan peralatan makan yang sama dengan orang lain demi menghindari tertularnya infeksi.

Pengobatan
Sebetulnya, tubuh memiliki daya tahan sendiri yang dapat mengeluarkan sendiri parasit tersebut; misalnya lewat batuk untuk mengeluarkan cacing yang ada di paru-paru, atau keluar bersama tinja untuk mengeluarkan cacing di saluran pencernaan. Namun tubuh tidak akan terbebas 100 % dari parasit cacing tersebut sehingga adakalanya diperlukan obat-obatan untuk membersihkan tubuh dari cacing.

Ada dua pendapat dalam pengobatan  kecacingan pada anak. Yang pertama anak diberikan obat cacing setahun dua kali (setiap 6 bulan sekali). Pertimbangannya, angka kejadian kecacingan di Indonesia masih cukup tinggi, dengan demikian pemberian obat cacing dengan cara seperti itu sah-sah saja. Mengenai efek sampingnya tak perlu terlalu dikhawatirkan selama pemberiannya sesuai dosis.

Pendapat kedua mengatakan pemberian obat cacing harus dilakukan sesuai  indikasi. Anak yang dinyatakan positif menderita kecacingan (terbukti terdapat parasit cacing lewat pemeriksaan feses), baru diberikan obat cacing. Jika tidak ada indikasi maka tidak perlu dilakukan pengobatan.

(Dedeh Kurniasih/Nakita)

Narasumber: Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)., dari RS Pondok Indah, Jakarta

Kategori:Kesehatan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: