Beranda > Psikologi > Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang, Harta Pun Hilang (1)

Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang, Harta Pun Hilang (1)

1345146p
Selasa, 3 Maret 2009 | 11:40 WIB

Laporan wartawan Astrid Isnawati

Berselancar di dunia maya seperti Facebook, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Terutama yang menyangkut privasi. Kalau tidak hati-hati, risikonya cukup besar. Bukannya kesenangan yang didapat, justru harta melayang.

Fenomena Facebook alias FB semakin tak terbendung. Tak heran jika FB dinobatkan sebagai situs pertemanan paling diminati di seantero dunia. Dan, seperti dua sisi berlawanan dari koin, di samping menguntungkan, FB pun mempunyai sisi “buruk”. Fitur sederhana seperti status dan foto yang dilengkapi tag yang digemari jutaan pengguna Facebook, ternyata berbahaya jika digunakan secara sembrono. Pasalnya, FB memungkinkan teman (mutual friends) mengetahui detail pribadi penggunanya. Bayangkan saja, cukup dengan meng-update status atau mengubah status hubungan dengan pasangan, secara otomatis semua teman mendapatkan notification (pemberitahuan).

Foto-foto yang diunggah lalu di-tag sembarangan dan diset, bisa dilihat siapa pun yang memiliki jaringan pertemanan, juga tak kalah bahaya, lho. “Di dunia maya, pencitraan diri dicerminkan lewat apa yang di-posting oleh Anda atau orang lain. Jadi, hati-hati dalam memilih foto untuk di-posting” ucap Donny BU, Senior Researcher ICT (Internet and Communication Technology) Watch.

Intinya, kata Doni, jangan sembarangan menyebar data pribadi, mengubah status, menambah teman yang sama sekali asing, atau mengunggah foto di dunia maya secara membabi-buta. Di Inggris, contohnya, suami membunuh istrinya karena sang istri mengubah status pernikahan mereka di FB, dari menikah menjadi lajang. Sang suami pun naik pitam dan gelap mata. Menyeramkan, bukan?

Kado Puluhan Juta
Tak hanya di luar negeri, peristiwa buruk menyangkut salah guna FB juga terjadi di sekeliling kita. Salah satunya menimpa Vira (bukan nama sebenarnya), perempuan berusia 30-an dengan jenjang karier eksekutif di perusahaannya. Sama seperti pengguna FB di berbagai tempat, Vira juga keranjingan. Tiada hari tanpa memperbarui perkembangan terbaru dari akun pribadi dan tak lupa menjelajahi satu per satu kabar teman-temannya di FB.

Suatu hari, dalam boks friend requests, sebuah nama dan foto asing muncul, meminta agar Vira menerima ajakannya untuk berteman. Vira melihat profilnya dan ternyata pria ini berasal dari Turki. Karena tidak memiliki mutual friends, dipastikan dia menggunakan panduan advanced search sampai menemukan akun Vira, sebuah upaya yang menunjukkan ada usaha lebih dari pria itu. Paras rupawan sang calon teman sedikit banyak membuat hati Vira melunak dan ikon Confirm tanpa ragu, ia klik. Alhasil, resmilah pertemanan mereka.

Setelahnya, mereka rajin bertegur sapa di wall untuk menjembatani jauhnya jarak dan perbedaan waktu. Karena si lelaki sangat perhatian dan mengaku punya pekerjaan tetap, Vira mengiyakan ajakan berpacaran. Tak lama kemudian, sang Arjuna datang ke Indonesia.

Ia bersikap amat santun dan supel. Dalam sekejap, keluarga besar Vira bisa dekat dengannya. “Dia rajin sekali mendekati keluarga saya,” kenang Vira. Ini adalah faktor yang mengakibatkan Vira menaruh kepercayaan besar kepada sang pacar. Belum lagi, pria Turki ini sangat royal secara materi, “Waktu saya lihat dan menyukai sebuah cincin, dia langsung membelikannya,” ujar Vira. Bahkan, saat Vira berulang tahun, dia mentransfer uang puluhan juta ke rekening Vira sebagai hadiah.

Ajak Nikah Berujung Amarah
Singkat cerita, mereka memutuskan untuk menikah. Tiba-tiba, Vira teringat sesuatu, “Kalau saya dinikahi dia, berarti saya harus ikut ke Turki dan meninggalkan semua yang saya miliki di sini.” Mendadak, hati Vira menjadi kurang sreg. “Apa benar dia suka dengan saya?” pikir Vira. Tak ingin menyesal, Vira lalu memutuskan hubungan mereka secara baik-baik. Reaksi tak terduga muncul dari negeri seberang. Sang pacar marah tak karuan, sampai mengancam dan meneror tiada henti.

Diburu amarah, lelaki itu mendatangi Vira ke Indonesia dan mengajaknya bertemu di hotel. Ancamannya tidak main-main, Vira harus mengembalikan semua pemberiannya yang bernilai ratusan juta rupiah, “Dia ingat detailnya, karena semua tercatat dengan baik di pembukuannya.” Kontan, Vira ketakutan. Bahkan, ketika teman-temannya menyuruhnya melapor ke polisi, dia menolak. “Saya malu dan takut,” begitu alasan Vira.

Alhasil, Vira pontang-panting mencari dana agar “utangnya” lunas. “Tabungan saya sampai habis, akhirnya terpaksa meminjam sana-sini,” keluh Vira. Masalah belum usai, karena hingga sekarang Vira masih berutang kepada teman dan keluarganya. “Sungguh melelahkan,” keluhnya. Kapokkah Vira main FB? “Enggak! Saya hanya lebih selektif memilih teman. Interaksi di FB hanya dengan teman-teman yang benar-benar dekat,” tandasnya.

Kasus Vira, kata Doni, sebetulnya tak akan terjadi jika saja Vira tidak asal menerima undangan berteman. Apalagi kalau hanya untuk menambah jumlah teman. “Lihat dulu, berapa banyak mutual friends. Semakin sedikit, berarti tidak banyak teman yang mengenalnya. Ini berarti risikonya lebih besar. Tidak perlu sampai ribuan teman, karena wajarnya, setiap akun FB memiliki 120 teman.” *

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: