Beranda > Kesehatan > Patah Tulang, Pilih Dokter atau Dukun?

Patah Tulang, Pilih Dokter atau Dukun?

220745p
Selasa, 28 Juli 2009 | 18:36 WIB

KOMPAS.com – Praktik dukun yang mengobati pasien patah tulang boleh jadi lebih banyak diminati masyarakat dibanding dokter ahli ortopedi. Hampir di setiap daerah terdapat praktik seperti ini.

Biasanya dukun akan membebat tulang yang patah dengan kain yang diolesi minyak tertentu. Bahkan ada dukun yang “mengobati” bagian yang trauma dengan cara menarik bagian tulang.

Menurut dr.Andri Lubis Sp.OT, spesialis Ortopedi dan Traumalogi dari FKUI/RSCM, penyembuhan trauma yang tidak tepat di dukun bisa menyebabkan deformitas (perubahan bentuk) tulang atau osteorthritis secondary (patah tulang sendi yang sembuhnya tidak sempurna).

“Patah tulangnya bisa saja sembuh tapi setelah sembuh justru mal union atau tulang menyambung dengan tidak sempurna. Misalnya saja pendek sebelah,” kata dokter yang mengambil sub spesialis Lutut, Pundak, dan Ortopedi Sport Medicine, ini.

Lebih lanjut Andri menerangkan bahwa pada dasarnya tulang bisa menyembuhkan dirinya sendiri dan tumbuh menjadi jaringannya. “Kalau hanya retak, diurut mungkin bisa sembuh,” katanya.

Namun pada kasus trauma tertentu, ia menyarankan agar pasien berobat ke rumah sakit. Misalnya, patah tulang dengan luka terbuka. “Pasien harus dirujuk ke rumah sakit karena lukanya bisa menimbulkan infeksi. Bila ini terjadi jaringan di sekitarnya bisa mati sehingga harus diamputasi,” paparnya.

Penanganan dengan cara tradisional juga jangan dilakukan terhadap trauma di daerah sendi seperti di panggul, lutut, maupun di daerah tulang belakang karena di sana terdapat struktur syaraf pusat. Bila penanganan salah, karena saraf motorik menyangkut pergerakan tangan dan kaki, bisa terjadi cacat seumur hidup. Dampak lebih jauh yakni tak berfungsinya alat-alat vital seperti untuk kencing atau buang hajat.

“Kalau treatment awal sudah salah, biaya pemulihannya lebih besar. Terlebih bila terjadi deformitas, bentuknya sudah sudah diperbaiki,” kata Andri.

Masyarakat juga dihimbau untuk tidak khawatir berobat ke dokter. “Selama ini banyak yang beranggapan kalau ke dokter pasti akan dioperasi, padahal itu tidak benar,” cetus Andri. Dijelaskan olehnya, sebelum memutuskan terapi untuk patah tulang, dokter akan menilai konfigurasi patahnya. “Biasanya hanya digips. Operasi baru dilakukan bila tulangnya hancur,” katanya.
AN

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: