Beranda > Psikologi > Perselingkuhan Melalui “Chatting”

Perselingkuhan Melalui “Chatting”

1001293p
Senin, 13 Juli 2009 | 10:01 WIB

Melanjutkan tulisan Ibu Sawitri minggu lalu mengenai penggunaan internet, berikut adalah masalah seorang bapak, SW, mengenai istrinya yang terus terobsesi dan terbius karena menemukan ”excitement” tersendiri dalam melakukan ”cybersex” dengan PIL-nya.

Saya sudah menikah 15 tahun dengan dua anak laki-laki yang sehat. Sekitar 10 bulan yang lalu istri saya bertemu dengan teman satu SMA di internet dan sering chatting. Hubungan mereka akhirnya terbongkar sekitar 1,5 bulan lalu. Saya memergoki hubungan mereka karena komputer rumah telah saya ”sadap”.

Istri saya mengakui bahwa mereka memang saling suka. Istri saya mengatakan mereka tetap tahu batas. Saya bahkan telah dua kali menelepon si PIL untuk memperingatkan. Dia berjanji akan mengingatkan istri saya untuk menghentikan hubungan mereka. Ternyata mereka berdua tetap saling berhubungan, bahkan pembicaraan di chatting telah menjurus ke arah yang negatif. Intinya mereka juga melakukan cybersex, tapi maaf tak bisa diuraikan di sini. Istri saya dan PIL-nya sudah banyak berbohong kepada saya. Istri saya dan si PIL memang tinggal terpisah di dua kota berbeda.

Saya terus berusaha sabar dengan berdoa karena saya sangat sayang sekali kepada istri dan rela menunggu kesadarannya untuk kembali. Istri mengatakan kalau langsung harus melupakan si PIL, hatinya akan hancur. Tampaknya istri saya sudah telanjur cinta. Jika dia tidak mendengar kabar dari si PIL akan terlihat murung. Bahkan kalau istri saya kangen dengan si PIL, saya mengizinkan dia untuk telepon. Saya mengizinkan karena saya merasa di zaman modern sekarang ini, saya tak akan bisa menghalangi mereka berkomunikasi, sementara saya sendiri tidak akan bisa setiap waktu berada di sampingnya. Ibu, tolong segera bantu permasalahan saya. Saya benar-benar bingung dan saya sangat-sangat mencintai istri saya.

Dunia maya

Tampaknya perlu sedikit dijelaskan mengapa seseorang bisa menjadi kecanduan chatting dan berhubungan melalui dunia maya.

Menurut Rona Subotnik (2005), dunia internet dapat menjadi ”enigma”, sesuatu yang membingungkan dan misterius. Internet menjadi tempat untuk para pencinta cyber bertemu meskipun jelas-jelas secara fisik tidak ada. Mereka merasa tidak akan terlihat bersama di tempat umum, mereka pikir perselingkuhan bisa tetap dijaga kerahasiaannya.

Banyak terasa pertentangan dalam berkomunikasi melalui dunia maya ini. Di satu pihak para pencinta cyber saling merasa kesepian, tapi di lain hal mereka bisa merasakan hanya mereka berdualah yang ada di dunia ini. Hal ini menyebabkan perasaan romantis yang kuat, perasaan romantis yang paradoks, karena kenyataannya mereka tidak ada secara fisik. Perasaan kedekatan yang dialami sebenarnya adalah keintiman yang semu. Mereka mungkin ingin bertemu tatap muka, tapi biasanya kekecewaan banyak dirasakan setelahnya.

Kejujuran juga sangat rentan, mudah bagi mereka untuk saling berbohong. Kalaupun ada ungkapan pribadi yang berasosiasi pada sesuatu yang ekspresif, semua itu sangat mudah dimanipulasi. Kata-kata tertulis dipikirkan lebih punya kredibilitas dan reliabilitas ketimbang ucapan lisan. Nada suara atau cara bicara, kontak mata dan bahasa tubuh yang bisa berpengaruh pada makna dan emosi yang mengiringi kata/kalimat, juga hilang dalam komunikasi melalui chatting.

Fantasi-fantasi dapat membimbing hubungan jarak jauh antara dua orang pencinta cyber, yang sebenarnya tidak saling tahu satu sama lain. Meskipun demikian, perselingkuhan melalui internet bisa merupakan perselingkuhan yang nyata (virtual affair), yang juga merusak dan menghancurkan keharmonisan keluarga.

Bagi orang-orang yang tidak stabil emosinya, mudah terpengaruh dan terbawa oleh sesuatu yang dianggap ”menyenangkan”, atau memang tengah mengalami kekecewaan atau ketidakpuasan hidup, tentunya akan mudah sekali terbawa oleh dampak negatif dari hubungan dengan dunia maya ini.

Saran penyelesaian

Memang tak mudah bila upaya penyelesaian hanya sepihak, berasal dari suami saja. Sementara istri belum mau (menurut saya) diajak berkonsultasi ke konselor ataupun ke psikolog. Biasanya, seseorang yang sadar dan merasa bersalah memang tak nyaman diajak berkonsultasi. Ia pasti takut akan diinterogasi lagi atau disalahkan oleh pihak luar.

Jadi, seyogianya jangan memaksa, apalagi seperti kata-kata Bapak akan ”menyeretnya” ke psikolog. Secara bertahap, teruslah mencari orang yang bisa ia percaya, mampu mengerti dirinya, dan dapat memberinya saran untuk berhenti berhubungan dengan si PIL.

Tampaknya sikap Bapak juga agak mendua menghadapi istri. Bapak mudah bingung antara ingin membuka kesalahannya ke orangtua istri yang baru sembuh atau akan membeberkan rahasia PIL ke keluarganya, tapi takut istri akan marah besar atau dia akan nekat melakukannya di luar kendali Bapak. Atau kondisi-kondisi lain seperti yang telah saya uraikan di surat Bapak.

Saya berharap Bapak lebih tegas dalam bersikap, saya paham Bapak takut kehilangan istri yang sangat Bapak cintai, tapi bila terus demikian, istri tak akan belajar mengendalikan dirinya dan menjadi lebih ”dewasa”. Semua keputusan pasti ada risikonya, terimalah risiko tersebut dengan besar hati. Saya juga berpikir, sebenarnya yang patut marah besar adalah Bapak sebagai orang yang terkhianati bukan?

Oh, ya, kita juga perlu belajar bahwa tidaklah baik bila kita terlalu mencintai seseorang, siapa pun dia, sehingga sangat ketakutan akan kehilangannya. Kita perlu menyiapkan diri bila sewaktu-waktu harus kehilangan dia, bukan?

Dari surat Bapak, saya tangkap Anda sudah terus mengupayakan perbaikan diri. Memang Bapak masih perlu terus berintrospeksi agar memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam hubungan interpersonal dengan istri dan lebih memerhatikan kebutuhan dia yang rupanya justru diperoleh dari si PIL. Saya juga salut dan sangat menghargai bahwa Bapak tidak hanya terbawa emosi marah dan dendam, atau justru cepat membuat ultimatum untuk menceraikannya. Selamat berupaya terus, saya doakan.

Agustine Dwiputri, Psikolog

Sumber : Kompas

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: