Beranda > Nasional > RI Protes Keras Malaysia

RI Protes Keras Malaysia

Tuesday, 25 August 2009

JAKARTA(SI) – Pemerintah melayangkan surat protes kepada Pemerintah Malaysia atas penggunaan tari pendet sebagai bagian dalam tayangan iklan Visit Malaysia Year 2009.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengatakan, surat tersebut ditujukan kepada Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia. Saat ini,pemerintah menunggu respons dari Malaysia soal surat teguran keras tersebut.

“Kita akan tunggu jawabannya seperti apa? Saat ini masyarakat sudah sangat marah dan tersinggung,”kata Jero WaciksaatjumpapersdiGedungDepartemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Jakarta kemarin. Sejak beberapa waktu lalu,Malaysia memunculkan iklan pariwisata bermoto Enigmatic Malaysia di jaringan televisi internasional Discovery Channel dengan memakai ikon seni budaya Indonesia.

Di antara cuplikan adegan itu adalah tayangan seorang wanita berpakaian adat Bali sedang menampilkan tari pendet. Menurut Jero, Malaysia berbuat ulah lagi dengan melakukan klaim atas tari pendet. Dua tahun lalu,lagu Rasa Sayangedan reog ponorogo juga ditampilkan dalam promosi pariwisata Malaysia.Pada Asia Festival 2007di Osaka,Jepang, Malaysia menggunakan lagu Indang Bariang sebagai budaya Malaysia. Dia mengaku, pada saat itu telah mengirim nota protes ke Pemerintah Malaysia.

Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia mengatakan negaranya menanggapi secara serius. Bahkan sengketa budaya ini dibahas dalam sidang kabinet Malaysia. “Menterinya kemudian diperingatkan untuk tidak menggunakan budaya Indonesia untuk komersial, tanpa izin,”ujar Jero.

Bermula dari kejadian itu, tambah Jero, diwujudkan pertemuan bilateral antara Indonesia dengan Malaysia, termasuk Presiden RI dan Perdana Menteri Malaysia. Pertemuan bilateral itu menggagas eminent persons group/EPG, yaitu grup yang terdiri dari para ahli untuk menangani kasus sengketa budaya Indonesia dan Malaysia.

Dalam pertemuan bilateral disepakatiadanya daerahabu-abu(grey area),misalnya kebudayaan Melayu. Apabila grey area ini akan digunakan untuk iklan komersial, Indonesia dan Malaysia akan saling memberi tahu dan saling minta izin. “Kalau tari Melayu bisa grey area karena di kedua negara terdapat tari tersebut.Tapi,tari pendet ini kanjelas-jelas tari Bali,semua orang di dunia ini juga sudah tahu itu.

Bali pasti Indonesia,”tegas Jero. Jero kemudian mengatakan apabila Malaysia tidak menanggapi surat protes keras ini,Indonesia akan mengajukan tuntutan hukum kepada Malaysia.“Secara hukum, tari pendet kan ada penciptanya. Kita bisa sue (mengajukan tuntutan),”katanya.

Dia melanjutkan,Indonesia bisa mengajukan tuntutan melalui OrganisasiBidang Pendidikan dan Kebudayaan PBB/UNESCO untuk memfasilitasi itu. “Bisa kita gunakan itu. Karena itu, saya minta pelaku kebudayaan, pemerintah pusat, dan daerah untuk segera mengumpulkan bukti kuat dan segera membuat paten,”tutur Jero.

Salah Paham

Sebelumnya, Jero mengaku juga telah memanggil Duta Besar (Dubes) Malaysia untuk Indonesia. Namun, Dubes Malaysia saat ini dalam proses penggantian. Pihak Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia diwakili Kuasa Usaha Sementara Kedubes Malaysia Amran Mohammad Zein dan dua orang dari Tourism Board Malaysia,yaitu Jamil Darus dan Mohammad Norhisyam Mohammad Yusof.

Amran menegaskan, pihaknya tidak pernah mengklaim tari pendet menjadi bagian dari budaya negaranya.Yang terjadi selama ini hanya salah paham.“Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim atas tarian tersebut,”tuturnya. Menurut informasi sementara yang diterima Pemerintah Malaysia, kata dia, iklan tersebut merupakan hasil produksi pihak swasta.

Oleh karena itu, Pemerintah Malaysia akan segera melakukan penyelidikan untuk mendapatkan informasi yang akurat.“Ini maklumat (informasi) awal yang perlu dijelaskan. Kita sama-sama mencari jalan terbaik atas isu ini agar tak menimbulkan masalah. Kami mohon media untuk bersabar,” tegas Amran.

Amran menjelaskan, pihaknya tidak ingin masalah iklan tersebut membuat hubungan kedua negara memanas.Dia berharap kedua negara tetap bisa bersahabat seperti sebelumnya. “Kami sedang mencari jalan bersama supaya hubungan Malaysia dan Indonesia sebagai negara bertetangga akan tetap berkembang seperti biasa.

Malaysia sebenarnya tidak ada apa-apa tentang klaim (tidak pernah mengklaim) tari pendet tersebut, ”terangnya. Agar polemik tentang tari pendet dalam tayangan iklan pariwisata terselesaikan, Amran menyarankan sebaiknya diserahkan melalui forum EPG yang telah dibentuk kedua negara.

Iklan Ditarik

Sementara itu,Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Depbudpar Tjetjep Suparman mengatakan, Discovery Channel berjanji menarik iklan promosi Malaysia yang berisikan tari pendet mulai kemarin. Janji tersebut telah disampaikan oleh perwakilan Discovery Channel di Singapura kepada Depbudpar.

‘’Dia (perwakilan Discovery Channel/DC) tadi (kemarin) bilang sama saya melalui telepon. DC juga punya perwakilan di Jakarta,tapi tadi dari representatif yang ada di Singapura,’’ ungkapnya. Tjetjep mengatakan Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia mengaku tak pernah tahu ada iklan tersebut.

Mereka juga tak pernah menyuruh untuk membuat iklan tersebut. ‘’Seperti dijelaskan oleh Kuasa Usaha Sementara Malaysia,mereka sedang mencari,kenapa menjadi begini,’’ tuturnya. Dia mengungkapkan,iklan tersebut dibuat oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) asal Malaysia untuk promosi acara Enigmatic Malaysia di Discovery Channel, sebuah televisi ilmu pengetahuan dan dokumenter asal AS yang siarannya bisa disaksikan oleh pemirsa televisi berlangganan di Indonesia.

‘’Iklan tersebut bisa dilihat di internet. Coba klik Enigmatic Malaysiaatau Discovery Channel.Saya juga melihatnya dari internet.Dua hari saya habiskan untuk mencari iklan itu,’’ imbuh Tjetjep. Pemerintah Malaysia, terang Tjetjep, kini juga sedang mencari PH yang membuat iklan tersebut. Meski tak ada keterlibatan Pemerintah Malaysia dalam iklan tersebut, lanjut dia, Indonesia tetap melayangkan nota protes.

‘’Ini untuk memberi pembelajaran kepada mereka,’’ tuturnya. Dia meminta semua pihak bersabar menunggu jawaban resmi yang diberikan oleh Pemerintah Malaysia.‘’ Mereka akan secepatnya memberikan jawaban. Saya harapkan pada minggu ini,’’ kata Tjetjep. Direktur Promosi Luar Negeri Depbudpar I Gde Pitana mengatakan, tari pendet dalam iklan Visit Malaysia Year sebenarnya dapat ditayangkan sepanjang seni budaya asli Bali itu tidak diklaim sebagai milik Malaysia.

“Kita harus melihat konteks masalahnya. Karena dalam iklan pariwisata kita juga sering tampilkan barongsai sebagai daya tarik bahwa di Indonesia juga ada atraksi barongsai. Tetapi kita tidak pernah mengklaim barongsai itu milik Indonesia, melainkan seni budaya itu berasal dari China,” katanya.

Menurut dia,tari pendet merupakan seni budaya asli Bali dengan demikian hak kekayaan intelektual (HKI)-nya adalah milik masyarakat Bali. “Mengenai perlindungan HKI atau intelectual property rights bidang seni budaya, Depbudpar bersama Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham) telah melakukan nota kesepahaman (MoU), “ tutur Pitana.

Dengan adanya MoU itu, jelas Pitana,diharapkan tiap daerah rajin untuk mendaftarkan karya seni budaya baik milik perseorangan atau masyarakat ke Depkumham untuk mendapatkan perlindungan hukum. Sementara itu Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan,masalah klaim kebudayaan ini bisa diselesaikan melalui EPG yang dibentuk antara Indonesia dan Malaysia.

Melalui EPG, diharapkan masalah dapat diselesaikan dengan baik. “Yang jelas sudah ada mekanisme yang bisa dilakukan sehingga tidak muncul persoalan yang tidak perlu, apalagi mengenai hal-hal seperti kebudayaan,” tambah Andi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.Dia mengatakan, secara tidak langsung Presiden sudah mendengar klaim tari pendet tersebut meski secara resmi belum mendapat laporan.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata guna mengambil langkah lebih lanjut. “Dengan adanya nota resmi dari Depbudpar berarti sudah ada suara sama atas nama pemerintah.

Tadi Deplu sudah berkoordinasi dengan Depbudpar untuk melihat situasi persoalannya,” jelas Faiza saat dihubungi kemarin. Faiza menilai klaim Malaysia atas tari pendet tidak bisa diterima karena tari tersebut sudah menjadi milik warga Bali selama ratusan tahun dan mengandung nilai sakral.

Terlebih, tari tersebut tidak berasal dari wilayah grey areaatau kebudayaan Melayu. Deplu akan terus mengikuti perkembangan kasus ini secara intensif mengingat kasus ini merupakan klaim Malaysia yang ke sekian atas budaya Indonesia.

Sebelumnya, Malaysia juga mengklaim tari reog,batik,serta lagu Rasa Sayange sebagai budaya mereka.“ Follow up dan tanggapan Malaysia atas nota resmi kita akan dibahas lagi,”tutur Faiza. (rendra hanggara/ rarasati syarief/maesaroh)


Simak juga :

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: