Beranda > Berita > Satu lagi kabar dari Malaysia : Lebaran, 3 Wanita Pesta Seks dengan 19 Pria

Satu lagi kabar dari Malaysia : Lebaran, 3 Wanita Pesta Seks dengan 19 Pria

(Ilustrasi)

KUALA LUMPUR – Hari raya Idul Fitri adalah hari suci bagi umat Islam. Namun 3 gadis Malaysia menodai momentum itu dengan berpesta seks bersama 19 pria Bangladesh.

Tidak ada di antara mereka yang menyadari tengah diawasi sekelompok polisi, yang telah mengepung rumah tempat digelarnya pesta berahi di Felda Krau, Raub, sebelum akhirnya digerebek pada pukul 02.30 lepas tengah malam saat Lebaran.

Harian Metro Malaysia, mengutip pejabat kepolisian Raub Inspektur Wan Mohd Samsudin Wan Osman, menyebutkan 22 orang itu ditangkap. Ketiga wanita yang ditangkap berusia antara 17 dan 43.

Menurut Mohn Samsudin, tiga perempuan itu menghabiskan dua malam di rumah tersebut untuk memuaskan hasrat para pria Bangladesh, berusia antara 20 dan 30.

“Tiga perempuan itu ditahan untuk penyidikan di bawah Seksi 372B Hukum Pidana dengan tuduhan prostitusi,” kata dia, dikutip dari Straits Times, Senin (28/9/2009). Polisi juga menemukan sejumlah kondom yang telah terpakai di rumah itu.

Saat penggerebekan, beberapa pria mencoba kabur, namun gagal lantaran rumah mesum mereka telah dikepung.

Seorang pria berusia 56 tahun, diduga sebagai mucikari, juga ditangkap.(jri)

sumber : okezone.com

  1. Gerizal
    22 Januari 2012 pukul 14:52

    Menjamurnya lokalisasi, warung remang-remang, hotel “short time” atau losmen “esek-esek”, salon plus plus, panti pijat plus, sauna plus, karaoke plus plus, atau diskotek dengan layanan khusus/VIP, setidaknya bisa dijadikan cermin perilaku (seks) masyarakat kita. Layaknya hukum dagang yang mengacu pada permintaan dan penawaran, demikian juga yang terjadi dalam layanan plus-plus. Tingginya jumlah pria hidung belang, maka menjamur pula wanita jalang pemburu uang.

    “Industri” seks pun merambah berbagai profesi: kapster, SPG, conter girl, sales marketing, hostes, caddy, bartender, waitress restoran, scoregirl, sekretaris, fotomodel, peragawati, artis, mahasiswi hingga siswi, siap menjadi gadis-gadis order, yang siap “dibawa” para “kumbang”.

    Terjunnya mereka di dunia seks komersial umumnya dilatarbelakangi ekonomi, meski ada juga yang awalnya yang “terlanjur” karena pernah jadi korban “lelaki”. Bahkan, faktanya dalam hal melacurkan diri ini, kini bukan hanya persoalan perut, bukan soal “menafkahi” keluarga, namun sudah perkara memenuhi gaya hidup. Hedonisme menjadikan mereka memburu kesenangan belaka. Asal bisa gonta ganti hp dan kendaraan, membeli busana bermerek dan aksesori mahal, mereka rela mengorbankan kehormatan diri atau menjadi simpanan bos-bos dan om-om.

    Tuturan di atas baru sebatas “jual beli”. Yang melakukan seks atas dasar suka sama suka, sex just for fun, atau sekadar mencari kepuasan pribadi, tentunya lebih banyak. Remaja/wanita hamil di luar nikah ada di kanan kiri kita, perselingkuhan sudah sering kita dengar, video mesum juga sudah bukan berita heboh lagi. Masyarakat seakan sudah abai atau malah justru permisif. Jika dahulu orang tua seperti dicoreng aibnya ketika anak perempuannya hamil di luar nikah, sekarang banyak orang tua yang justru bersikap biasa saja, bahkan cuek.

    Pacaran zaman sekarang juga jauh lebih “canggih”, karena remaja sekarang lebih paham tentang hal-hal yang terkait reproduksi, bahkan paham bagaimana menghindari cara dan waktu berhubungan seks yang berpotensi kehamilan.

    Tak berhenti hingga di sini. Seks bebas juga berkembang menjadi perilaku seks menyimpang: pesta seks, arisan seks, private party, incest (hubungan seks sedarah), hingga homoseksual. Lebih ironis, komunitas “maho” (manusia homo) berkedok demokrasi seks malah melembaga di negeri ini, mewujud dalam organisasi GAYa NUSANTARA.

    Padahal, yang namanya kasus-kasus menyimpang soal seks seperti fenomena gunung es; di permukaan saja sudah memiriskan hati, apalagi yang tidak tampak. Perkembangan teknologi (TV, internet, HP, dsb) yang mengekspos budaya mempertontonkan aurat menjadi sarana “ampuh” dalam menimbun hasrat seksual para remaja. Alih-alih disalurkan pada tempatnya (baca: menikah), yang terjadi, kejahatan seksual seperti pemerkosaan dan sodomi, malah merebak di mana-mana.

    Sistem pendidikan yang menempatkan agama sebagai suplemen, menjadikan anak bangsa ini miskin ilmu dan iman. Hal ini juga didukung dengan lemahnya pengawasan orang tua dan minimnya amar ma’ruf nahi mungkar.

    Ironi memang sedemikian bebasnya seks bebas di negeri yang mayoritas muslim ini. Bagi orang tua yang membiarkan putrinya bebas bergaul dengan laki-laki, bagi “ustadz-ustadz cinta” yang menghalalkan pacaran, bagi “dai-dai gaul” yang diam seribu bahasa dengan maraknya perzinaan di negeri ini, sadarlah, seks bebas mengepung kita!

    Komentar:

    Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah, kemudian membentengi diri dan keluarga kita dari perbuatan keji dan mungkar. Ya Allah jauhkanlah kami dan keluarga kami dari perbuatan keji dan mungkar, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

  2. 15 November 2009 pukul 08:21

    Waduh jamuny apa y ?ntar lempoh ,,?

    • 15 November 2009 pukul 12:30

      konon, mereka nggak perlu minum jamu mbak,
      syaratnya cuma satu yaitu
      sering2 meng-klaim budaya tetangganya:mrgreen:

  3. kaneadventure
    8 Oktober 2009 pukul 11:06

    Bwahahaha..Gangbang ala Malay.

    eits, jangan ikut2an lho sob….
    hehehe😆

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: