Beranda > Berita > Mbak Tutut Digugat TPI

Mbak Tutut Digugat TPI

Salah satu keluarga besar Cendana yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Siti Hardiyanti Rukmana alias Mba Tutut kembali tersandung perkara. Hari ini (30/9), secara resmi, TPI mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan tudingan menyelewengkan anggaran perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Dari Gugatan yang didapat KONTAN, Tutut dinilai mengelabui pihak manajemen terkait dana perusahaan untuk dialihkan ke rekening pribadi. Melalui gugatan tersebut, TPI berharap dapat menarik kembali dana tersebut untuk kepentingan pengembangan bisnis.

Marx Adryan, Kuasa Hukum TPI mengatakan, kasus ini tak terkait dengan kasus pailit yang kini sedang menimpa kliennya. Marx mengatakan, mereka terus mencoba untuk mendapatkan kembali sejumlah modal usaha yang seharusnya masuk ke manajemen. Tak tanggung-tanggung, nilai modal usaha itu mencapai US$ 50 juta. “Uang sebesar itu tidak masuk ke TPI, tapi masuk ke Tutut. Kami minta dikembalikan,” ujar Marx Adryan, kala ditemui di PN Jakpus, Rabu (30/9).

Marx bilang, TPI mendapat pinjaman tanpa jaminan senilai US$ 50 juta dari Kerajaan Brunei Darussalam, melalui Brunei Investment Agency (BIA) pada 16 April 1993. Tutut yang memanfaatkan jabatannya sebagai Presiden Direktur TPI mengirimkan surat agar memindahkan duit tersebut ke rekening pribadinya pada tanggal 27 April 1993. Ditransfer ke Chase Manhattan Bank, Singapore dengan nomor rekening 151-84576-7 atas nama Siti Hardiyanti Rukmana,” ujar Marx.

Marx menjelaskan, uang tersebut tak hanya dinikmati oleh Tutut saja, melainkan Indra Rukmana selaku Suami Tutut, dan Shidik Wahono yang dianggap sebagai tangan kanan Tutut. Konon, kedua orang itu telah menggunakan uang sebesar US$ 50 Juta untuk kepentingan pribadi, seperti membeli perabot, mobil mewah dan perhiasan, serta rumah mewah yang beralamat di Jalan Yusuf Adiwinata No 14 Menteng, Jakarta Pusat. “Hingga sekarang, uang itu tidak pernah dikembalikan ke TPI,”ujar Marx.

Sebelumnya, TPI mengaku telah mengirimkan somasi sebanyak tiga kali ke Tutut. Tapi, apa lacur jika gugatan itu tak digubris. “Yang terakhir tanggal 7 September lalu dan tak ditanggapi juga. Makanya kami melakukan gugatan ke pengadilan,” imbuhnya.

Tak cuma meminta pengembalian US$ 50 Juta, Marx juga menghitung biaya bunga sebanyak 12% per tahun. “Hitung saja sendiri nilainya sekarang setelah 16 tahun,” tandasnya. Ia bilang, TPI sangat membutuhkan uang itu untuk pengembangan bisnis.

Sayang, Kuasa Hukum Mbak Tutut, Juan Felix Tampubolon tidak menjawab atau merespon konfirmasi yang dilakukan oleh KONTAN terkait gugatan ini.

sumber : kontan online

  1. Dadang Supriadi
    1 Oktober 2009 pukul 19:27

    Apa,bisa digugat mantan anak no 1 di Indonesia…?
    Tapi tengoklah,kalo terbukti ya mungkin saja…
    Tapi kalo tidak jelas tuntutannya…
    apa bisa digugat…?

    yah,kita sebagai penonton cuma bisa ngeliat siapa nanti yang ‘bermain’ bang😆

  2. 1 Oktober 2009 pukul 15:04

    hmm………….dogma tentang sebuah reruntuhan sang penguasa itu semakin menjelaskan arti dari sebuah kejujuran yang tak ternilai yang sedang terhilangkan dari jiwa jiwa yang mengerti sebuah jujur!
    aku suka post seperti sedemikian ini bang
    salam hangat sellau
    mantab

    salam hangat kembali, makasih atas penilaian dan kunjungannya …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: