Arsip

Posts Tagged ‘selingkuh’

10 Cara Pertahankan Hubungan Usai Selingkuh

7 September 2010 6 komentar
(thesun.co.uk)

Sepertiga pasangan, menurut penelitian, pernah selingkuh, ketahuan, dan menimbulkan sakit hati. Inilah 10 cara mempertahankan hubungan setelah tragedi perselingkuhan.

Ada 10 langkah yang harus dilakukan. Demikian seperti mengutip The Sun.

Abaikan pengacara perceraian

Jangan terburu-buru ke pengacara perceraian. Awal yang Anda harus lakukan adalah berjalan-jalan ke luar rumah atau berlibur di suatu tempat selama beberapa hari. Itu ide yang baik. Tenang sebelum membuat keputusan permanen yang memungkinkan penyesalan di kemudian hari.

Berbagi cerita dengan teman atau keluarga

Berbagilah dengan teman terpercaya atau keluarga. Yakinlah mereka bisa menjadi penghibur Anda. Baca selanjutnya…

Selingkuh, tapi Tak Merasa Bersalah

Selasa, 25 Agustus 2009 | 14:18 WIB
ilustrasi

Sembilan tahun pernikahan, saya jarang bisa puas. Bahkan, sejak empat tahun terakhir tidak pernah puas sama sekali karena suami tak bisa ereksi dengan baik. Saya sering menyuruhnya berobat ke dokter tapi dia takut minum obat untuk seks. Ia membaca di koran ada orang yang meninggal akibat minum obat kuat.

Selama itu saya hanya kecewa dan jengkel karena seks tidak tersalurkan. Secara tak terduga setahun lalu saya bertemu teman di sebuah hotel. Saya mau saja waktu diajak makan di kamarnya. Saya juga mau waktu dia memeluk dan mencium saya, sampai berhubungan seks. Mungkin karena sudah lama saya tidak mengalami itu dengan suami. Saya merasa seperti kehausan saja.

Waktu itu saya merasa bersalah karena telah mengkhianati suami. Tapi, saya juga merasa ini kesalahan suami yang tidak memerhatikan istrinya. Sejak itu saya ingin mengulang lagi, tapi teman saya itu sudah pulang ke kotanya. Sampai akhirnya saya bertemu teman lain, dan kejadian itu terulang lagi.

Hubungan dengan teman ini berlangsung sampai sekarang karena dia juga tinggal di Jakarta. Saya merasa puas setiap berhubungan seks dengan dia. Rasanya kekecewaan selama bertahun-tahun dengan suami terhapus dalam sekejap.

Saya heran, mengapa kali ini tidak merasa bersalah? Saya tidak merasa ada perubahan apa-apa terhadap suami dan anak-anak. Saya juga tidak merasa ada ikatan dengan teman ini. Kami sepakat agar tidak terjadi masalah dengan keluarga masing-masing.

Anehnya lagi, saya jadi tidak jengkel dan kecewa lagi terhadap suami. Saya jadi lebih memerhatikan suami, walaupun merasa tidak butuh suami dalam urusan seks. Apakah ini wajar bagi perempuan? Bagaimana agar suami mau berobat dan sembuh?”
PT, Jakarta

Sebab Akibat Ketidakharmonisan
Apa yang Anda alami adalah proses sebab akibat. Bermula dari ketidakharmonisan kehidupan seksual dengan suami yang menyebabkan kekecewaan dan kejengkelan. Dalam keadaan seperti itu, Anda bertemu teman di hotel itu.

Saya dapat mengerti kalau Anda mau melakukan hubungan seksual dengan dia. Tampaknya pertemuan di situ memberikan suasana yang membuat Anda menemukan pria yang Anda harapkan dapat memenuhi kebutuhan seksual Anda.

Seperti pengakuan Anda, “mungkin karena sudah lama saya tidak mengalami itu dengan suami”, maka Anda mau melakukan. Hubungan seksual dengan pria itu, yang merupakan pengalaman pertama selain dengan suami, wajar membuat Anda “merasa bersalah karena telah mengkhianati suami”.

Tapi, tampaknya keinginan melakukan hubungan seksual lagi mampu menghilangkan perasaan bersalah itu. Bertemu dan melakukan hubungan seks dengan teman lain itu memuaskan bagi Anda. Hubungan seksual kali ini bukan sebuah pengalaman baru, walaupun dilakukan dengan pria lain.

Karena itu, dapat dimengerti kalau Anda tidak lagi merasa bersalah seperti ketika pertama kali melakukan hubungan seksual dengan pria lain, apalagi Anda merasa puas setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pria itu.

Kepuasan yang Anda rasakan ini menyebabkan Anda melupakan kejengkelan dan kekecewaan terhadap suami. Sebaliknya, Anda lebih memerhatikan suami sebagai satu hal yang wajar dan harus dilakukan sebagai seorang istri

Apa yang Anda alami ini bukan masalah wajar atau tidak dialami oleh seorang istri, melainkan suatu sebab akibat kehidupan seksual yang tidak harmonis. Sebenarnya ketidakharmonisan tidak akan berakibat terlalu jauh andai kata gangguan seksual suami tidak diabaikan begitu saja. Dengan pengobatan yang benar, gangguan fungsi ereksi yang dialami suami dapat diatasi dengan baik.

Ketakutan suami mengenai obat untuk gangguan fungsi seksual sungguh tidak beralasan. Kalau berkonsultasi kepada tenaga ahli, ketakutan itu tidak perlu terjadi karena pengobatan yang diberikan pasti sesuai prosedur yang benar. Ini berbeda kalau suami membeli sendiri obat yang seharusnya diberikan sesuai resep dokter.

Konsultasi dengan Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And

Sekali Lagi, Selingkuh karena Fb dan SMS

1000259p
Minggu, 16 Agustus 2009 | 11:49 WIB

Ibu Sawitri Yth,

Menanggapi rubrik Psikologi pada Minggu (5/7) berjudul Berkomunikasi Melalui Fb dan SMS, Eksesifkah? saya ingin menambahkan (ini mungkin kasus ketiga, ya, Bu).

Suami saya sudah kecanduan internet, terutama Fb (dulu Fs dan sejenisnya). Ia add perempuan-perempuan, ajak kenalan, chat, bahkan minta nomor HP-nya, nanti ketemuanlah dengan dalih barangkali kita bisa bisnis dan banyak lagi. Saya sudah memperingatkan, tetapi dia selalu bilang cuma teman, apa salahnya menambah teman. Tetapi, kok cari teman perempuan sebanyak-banyaknya. Maksudnya apa?? Ingin selingkuh dan menikah lagi??? Apalagi yang dia add mulai dari anak kuliah, wanita karier, janda, istri orang, sampai perempuan yang ”aneh-aneh”, dari yang biasa saja sampai yang body-nya aduhai (diobral foto-foto syurnya di Fb)….

Walau dia selalu bilang cuma teman, tetapi saya tidak terima. Hati saya tidak tenang. Dia bisa berjam-jam duduk di depan komputer. Akhirnya saya sering bertengkar dengannya, hubungan kami jadi tidak harmonis, komunikasi tidak lancar, hubungan suami-istri juga jarang karena dia ”sibuk” dengan teman-teman perempuannya. Apalagi Bu, dia bisa menulis begitu mesra, begitu perhatiannya, berbanding terbalik perlakuan dan perhatiannya kepada saya.

Dia jarang sekali memuji saya, mengatakan honey, sayang kepada saya, tetapi dengan perempuan yang baru dia kenal di dunia maya, sejumlah kata mesra diobral terus. Saya jadi tidak respek, tidak percaya dia lagi, selalu berpikir negatif, bahkan terpikir melakukan hal sama, tetapi saya bukan orang seperti itu. Apalagi saya selalu ingat anak. Walaupun sampai saat ini tidak pernah terjadi perselingkuhan (feeling saya mengatakan demikian), tetapi hati kecil saya selalu berkata, bukan tidak mungkin suatu saat suami pasti akan selingkuh…. Saya jadi sering mengecek e-mail, telepon, dan SMS dia.

Perkawinan saya tidak bahagia (kami sudah menikah sembilan tahun). Saya ingin sekali bercerai, tetapi masih memikirkan masa depan anak saya walau secara keuangan saya mandiri (saya masih bekerja sampai saat ini). Suami saya sudah berubah banyak, Bu. Dulu tidak seperti ini….

Saya ingin sekali konsultasi, curhat, karena sampai detik ini orang mengira perkawinan kami baik-baik saja karena saya tidak pernah menceritakan masalah ini kepada siapa pun. Tetapi, saya bisa gila kalau kondisinya terus demikian. Sebegitu mudahkah laki-laki beristri selingkuh, Bu…? Apa yang harus saya lakukan? Saya sudah cukup sabar, tetapi saya sudah tidak kuat lagi….

Kasus 4

Ibu, perkawinan saya baru berlangsung empat bulan, tetapi sudah menemukan SMS suami yang dikirim kepada seorang perempuan yang ”aneh” di HP suami. Sudah saya tanyakan, dijawab dia hanya bermaksud menambah teman, tetapi ungkapan dalam SMS jawaban dari suami mesra sekali. Kalau saya tanya alasannya, saya tidak mengerti jawaban dia. Biasanya alasan demi alasan yang dia sampaikan baru terus. Kadang suami bilang dia dapat nomor cewek itu dari temannya, kadang dia bilang ceweknya yang menelepon lebih dulu. Ketika saya tanya ke ceweknya, cewek itu bilang suami saya justru yang kontak duluan. Jadi, saya harus bagaimana, Bu, atau saya minta cerai saja?

Saran solusi

Dari kedua kasus tersebut di atas, kita semua dapat merasakan betapa pedihnya hati kedua perempuan-istri tersebut sebagai korban suami yang kecanduan relasi Fb dan SMS yang gegap gempita oleh rayuan, puja-puji antara dua manusia lain jenis yang pada dasarnya tidak saling kenal baik, walaupun terkadang ada janji bertemu dengan dalih peluang bisnis.

Akibat eksesifnya adalah relasi suami-istri akhirnya penuh kemarahan, kejengkelan, dan kecemburuan berlanjut. Hati kedua perempuan istri tersebut diliputi kecurigaan, waswas, cemas, penuh amarah, sehingga menyiratkan keinginan bercerai. Padahal, perceraian membawa konsekuensi psikologis lebih kompleks serta eksesif pula terhadap pasangan maupun anak-anak. Yang juga menyedihkan adalah kasus 4 yang pernikahannya baru berlangsung empat bulan. Suami mereka waktu, perhatian, dan kasihnya disita oleh teman lain jenis di dunia maya.

Untuk itu hendaknya para suami menyadari dan berupaya mengingat istri bukan hanya sekadar bagian dari diri mereka, tetapi tetap pribadi yang sangat membutuhkan pengayoman emosional bersifat personal dan penuh kasih demi terciptanya iklim keluarga yang hangat serta kondusif bagi perkembangan jiwa anak-anak secara optimal. Jadi, gunakanlah relasi di dunia maya dengan penuh kendali.

Bagi para perempuan yang juga kecanduan relasi melalui Fb dan SMS, berkenalan melalui Fb dan SMS memang mengasyikkan. Tetapi, pertimbangkanlah eksesnya bagi kehidupan keluarga Anda (bila sudah menikah) dan keluarga teman di dunia maya tersebut. Janganlah membiarkan relasi berkembang ke arah cumbu rayu tanpa arah serta perselingkuhan pikiran dan batin yang pasti akan menyakitkan perasaan pasangan perkawinan Anda dan pasangan perkawinan teman baru tersebut. Tanpa Anda sadari, Anda menyakiti hati sesama jenis Anda sendiri. Tegakah?!

Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog

Sumber : Kompas